Hasil Tangkapan Ikan Turun, Mutu Ikan Perlu Ditingkatkan

Hasil Tangkapan Ikan Turun, Mutu Ikan Perlu Ditingkatkan

- detikNews
Selasa, 04 Apr 2006 00:24 WIB
Jakarta - Tren penangkapan ikan yang menurun telah melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal itu terlihat antara lain dari laju pancing ikan tuna di Bali yang rata-rata turun antara 0,8 sampai 1 persen dibanding periode 1970-1980. Sementara bobot ikan saat ini hanya sekitar 25 kg, padahal dulu bobot rata-ratanya 30 kg. Oleh karena itu perlu diberikan nilai tambah pada ikan hasil tangkapan. Hal tersebut diutarakan Kepala Bagian Program Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Bambang Herunandi, dalam diskusi bertajuk Pengembangan Industri Bahari melalui Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Gedung BPPT Jl MH Thamrin, Jakarta, Senin (3/4/2006). "Ini perlu untuk mengatasi masalah yang dihadapi ekologi laut kita," cetus Bambang. Selanjutnya perlu diberikan bantuan teknologi bagi dunia perikanan. Ia mencontohkan dengan memberikan mesin pembuat es bagi nelayan, tempat pengawetan ikan yang dikenal dengan nama cool box, dan bahan bakar pengganti BBM berupa biodiesel. Selain itu perlu diberikan juga test kit untuk mengecek kadar formalin pada ikan dan alat komunikasi yang mudah dan murah. Sementara itu Kepala Pusat Riset Perikanan Budidaya BRKP, Ketut Suyana mengatakan pemberian nilaim tambah pada ikan hasil tangkapan bisa dilakukan dengan peningkatan pengolahan sehingga nilai ekspornya juga turut meningkat. Cara lainnya adalah dengan memfokuskan pada sektor perikanan budi daya dan pencarian daerah perikanan baru. Dalam perikanan budi daya menurut Ketut yang perlu ditingkatkan adalah ikan nila, bandeng, patin, ikan sidat dan ikan serak. Hal itu dikarenakan budi daya ikan-ikan tersebut memiliki pangsa pasar ekspor yang bagus. Apalagi ikan bandeng hanya ada di Indonesia. Ketut mengatakan bahwa daerah di Indonesia yang memiliki potensi besar dalam penangkapan ikan hanya di wilayah timur Indonesia. "Maka tidak heran banyak kapal asing dan lokal di sekitar Selat Arafura," ujar Ketut. Karena itu, Ketut mengusulkan agar segera dilakukan penertiban di selat tersebut agar kondisnya tidak seperti Selat Sunda atau Laut Jawa. Di dua perairan laut tersebut hasil penangkapan ikan memang sudah tidak maksimal. Ketut menambahkan bahwa di masa yang akan datang kapal laut asing yang akan mencari ikan di perairan Indonesia harus bekerjasama dengan pihak lokal. Sebab selama ini ikan hasil tangkapan langsung dibawa oleh kapal asing tersebut. Karena itu pemerintah berencana menghentikan kerjasama dengan kapal asing seperti dari China, Philipina, Thailand dan Malaysia untuk menjaga kelestarian hasil laut. Untuk itu semua kontrak akan dihabiskan hingga tahun 2007. (ddn/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads