Diduga Cemari Sumur, Pabrik Tekstil Digugat
Senin, 03 Apr 2006 22:09 WIB
Jakarta - Limbah solar membuat sumur warga Desa Babakan, Rawakalong, Cimanggis, Depok tidak bisa digunakan. Air sumur berubah menjadi coklat dan berbau. Limbah ini diduga berasal dari kebocoran pipa diesel pabrik testil yang ada di dekat desa itu."Sejak Januari air bersih sulit didapat, sekarang sumur isinya bukan air tapi solar," kata Tuti Margiyani (43), salah seorang warga, kepada wartawan di Sentra Pelayanan Kepolisian, Polda Metro Jaya, Jl Gatot Soebroto, Senin (3/4/2006).Bahkan, menurut Tuti, pernah ada warga yang mencoba mengisikan air sumur itu ke sebuah truk dan ternyata truk itu bisa jalan. "Jadi isi sumur itu bener-bener solar," katanya.Warga meyakini kalau limbah itu berasal dari pabrik tekstil PT Rajabrana, yang terletak di sekitar desa mereka.Warga telah melakukan pertemuan dengan pabrik tersebut. Tetapi pihak pabrik hanya diwakili oleh kepala keamanannya saja. "Kami tidak pernah bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan itu," kata salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya.Menurut dia, yang telah tinggal di desa itu selama 15 tahun, perusahaan itu mengakui telah ada kebocoran dalam pipa bahan bakar bawah tanah yang menyebabkan pencemaran itu. Warga pun sempat mengeluh kepada pihak manajemen pada bulan Januari. Dan keluhan warga itu dijawab manajemen dengan membuat pipa untuk mengalirkan air bersih dari perusahaan ke penduduk sekitar.Namun, warga masih ragu untuk mengunakan air tersebut untuk memasak dan minum. Hal ini disebabkan mereka tidak terlalu yakin kalau air tersebut benar-benar bersih. "Kami hanya mengunakannya untuk mandi dan mencuci," katanya. Selain itu perusahaan juga telah memasang lima pompa air pada bulan Februari."Tapi kualitas airnya jelek. Warnanya coklat dan masih berbau diesel," kata Priyono Yang menjadi masalah adalah air tersebut telah tercemari solar. Jadi walaupun mereka membuat mesin air dan pipa, kualitas airnya masih jelek. Polusi di sumur-sumur ini menyebabkan penduduk di desa itu harus menyediakan anggaran tambahan untuk membeli air mineral."Untuk itulah kami menuntut pabrik menghentikan polusi dan menganti seluruh kerugian yang telah diderita penduduk," katanya.
(ddn/)











































