Mengapa Bangsa Arab Pra-Islam Dikenal Sebagai Bangsa Jahiliyah?

Rahma Indina Harbani - detikNews
Kamis, 26 Agu 2021 07:04 WIB
Infografis garis keturunan Gadis Pemerah Susu
Foto: Fuad Hasyim/detikcom/Mengapa Bangsa Arab Pra-Islam Dikenal Sebagai Bangsa Jahiliyah?
Jakarta -

Catatan sejarah menyebut bangsa Arab pra Islam sebagai bangsa jahiliyah. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan bangsa Arab setelah datangnya Islam dan zaman modern saat ini.

Keterangan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam dari Kementerian Agama bisa menjawab penyebutan jahiliyah untuk bangsa Arab pra Islam. Penyebutan terkait dengan sistem peribadatan dan kehidupan sosial budaya.

Mengapa bangsa Arab pra Islam dikenal sebagai bangsa jahiliyah?

1. Sistem peribadatan

Mulanya bangsa Arab Quraisy mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS yaitu agama Hanifiyah. Namun seiring waktu, ajaran tersebut mengalami perubahan yang tidak bertanggung jawab dari para pengikutnya.

Hingga muncul berbagai ajaran yang meragukan, seperti menyembah berhala yang dibawa oleh Amr bin Luay al Khuzai. Pada saat itu, bangsa jahiliyah mulai banyak yang menyembah berhala atau patung-patung.

Berhala tersebut dibuat sendiri oleh mereka dari batu, kayu dan logam. Amr bin Luay al Khuzai meletakkan sebuah berhala besar bernama Hubal yang terbuat dari batu akik berwarna merah berbentuk patung manusia.

Berhala ditempatkan di sisi Ka'bah. Dia pun menyeru kepada penduduk Hijaz supaya menyembah berhala itu. Dorongan menyembah berhala berasal dari tradisi meninggalkan Makkah dengan membawa batu dari tanah Haram.

Bentuk pemujaan lain yang dianut bangsa Arab pra Islam adalah:

1. Menyembah malaikat

2. Menyembah jin, ruh leluhur, dan hantu

3. Menyembah bintang

Bangsa Arab jahiliyah juga banyak yang percaya takhayul. Misal mengikatkan rumput kering pada kambing jika mengharapkan hujan.

2. Kehidupan sosial budaya

Bangsa Arab memiliki sejumlah suku dan karakter khas. Secara sosiologis telah mendorong bangsa ini untuk saling bersaing yang pada ujungnya melahirkan perang antar suku.

Moral dan perilaku mereka sangat rusak, yang terbukti dari kebiasaan judi dan minum minuman keras. Bahkan tak jarang mereka merampok sehingga sering menimbulkan peperangan antar suku.

Buruknya moral juga tercermin dari tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Masyarakat Arab pra Islam yakin anak perempuan tidak berguna dan hanya menyusahkan orang tua.

Hingga mereka merasa terhina apabila mempunyai anak perempuan. Suku-suku yang melakukan perbuatan keji dan tak berperikemanusiaan itu adalah suku Bani Tamim dan suku Bani Asad.

Terlepas dari peribadatan, masyarakat Arab pra Islam mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam bidang bahasa dan seni bahasa, orang-orang Arab pra Islam melahirkan penyair.

Dengan kondisi ini, sebutan jahiliyah pada bangsa Arab pra Islam tidak berarti bodoh. Menurut sejarawan Islam Ahamd Amin, jahiliyah merujuk pada kebiasaan melawan kebenaran meski telah mengetahuinya.

Itulah alasan mengapa bangsa Arab sebelum mengenal Islam disebut sebagai bangsa jahiliyah. Bagaimana detikers, sekarang sudah paham bukan?

(rah/row)