Itu Tidak Senonoh, Cenderung Agitatif dan Destruktif

SBY Soal Karikatur:

Itu Tidak Senonoh, Cenderung Agitatif dan Destruktif

- detikNews
Senin, 03 Apr 2006 12:17 WIB
Jakarta - Karikatur SBY yang digambarkan tengah menunggangi orang Papua yang dimuat di harian The Weekend Australian edisi 1 April 2006 ditangapi serius oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Presiden menyesalkan dan prihatin atas pemuatan karikatur dirinya yang dinilainya tidak senonoh, bahkan melecehkan itu. Ia berharap semua pihak bisa menahan diri."Karikatur semacam itu di samping tidak senonoh, juga cenderung agitatif dan destruktif serta bisa menimbulkan emosi rakyat," kata Presiden SBY dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (3/4/2006).SBY mengaku sebenarnya tidak ingin berkomentar adanya kartun dirinya itu. "Tetapi saya dengar PM Australia Howard dan para tokoh sudah memberikan komentar, dan tidak salah kiranya saya memberi tanggapan," katanya.Selain menyesalkan dan prihatin atas pemuatan kartun tersebut, SBY juga mengingatkan agar semua pihak menahan diri. "Baru saja ada pelajaran berharga di tingkat dunia, yaitu terbitnya karikatur Nabi Muhammad SAW yang menimbulkan kegoncangan. Karikatur semacam itu di samping tidak senonoh, juga cenderung agitatif dan destruktif serta bisa menimbulkan emosi rakyat," ujar dia.Lebih lanjut SBY mengatakan dirinya mendengar salah satu media massa di negara Indonesia juga menerbitkan karikatur sejenis. "Meski saya pahami media yang bersangkutan ingin mengekpresikan kemarahan berdasarkan nasionalisme, tapi saya pesankan jangan terlalu jauh serta bisa menimbulkan masalah lebih besar," kata suami Kristiani ini.Kepada pers Indonesia, Presiden berharap dalam menampilkan ekspresi lebih pantas lagi dan jangan melewati batas-batas kepatutan."Kepada pers Australia, yang konon lebih matang dan dewasa dalam demokrasi saya serahkan kepada pemerintah bersangkutan. Saya yakin dengan adanya masalah ini ada solusinya bila ada kesungguhan bersama. Ada perang yang terjadi di sejumlah negara disebabkan hal-hal sepele. Ini jangan sampai terjadi," kata SBY.Untuk itu, dirinya meminta kasus ini bisa diselesaikan secara jujur, arif, dan tepat serta dalam kerangka tegaknya kedaulatan negara yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. "Pulihkan kembali hubungan RI-Australia yang mengalami keretakan," tandasnya.Rakyat Merdeka edisi 27 Maret menampilkan kartun PM Australia John Howard dan Menlu Australia Alexander Downer. Kemudian dibalas The Weekend Australian pada edisi 1 April dengan memuat kartun Presiden SBY. Temanya terkait pemberian visa oleh Australia kepada 42 dari 43 warga Papua pencari suaka. (jon/)


Berita Terkait