Setahun Gempa Nias
"Kapan Sekolah akan Dibangun"
Senin, 03 Apr 2006 10:16 WIB
Nias - "Ibu, apa bule-bule itu juga akan membangun sekolah? Bisa ibu tanyakan sama mereka?" ungkap Sari Lase (10) pada detikcom ketika berkunjung ke desanya di Desa Iraun Lase Kecamatan Lahewa di bagian utara Nias, Kabupaten Nias usai peringatan satu tahun tsunami, Senin (3/4/2006). "Ibu harus lihat sekolah kami. Tidak jauh, dekat dari sini," ajaknya. Karena tidak ada reaksi, dia mengulang sekali lagi. "Tidak jauh bu, ayolah," katanya setengah memaksa.Akhirnya dengan berjalan kaki, kami melintasi jalan setapak yang terus menanjak. Beberapa orang yang melihat kami menegur dan bertanya hendak kemana. Beberapa teman Sari Lase yang kami jumpai di sepanjang jalan kemudian bergabung. Tak sampai lima menit, kami tiba di sekolah Sari Lase. "Ini kelas kami, Bu. Dulu kami sekolah ditenda. Tapi karena tendanya sudah rusak kami dipindahkan kemari," ujarnya. Sekolah yang dimaksud Sari Lase adalah bangunan SD Negeri 71146, Lahewa. Sekolah ini berada di Desa Iraun Lase Kecamatan Lahewa, Nias. Hanya sekitar 10 meter dari jalan utama di Lahewa, jalan yang menghubungkan Gunung Sitoli dan Lahewa. Beberapa ruang sekolah sudah ambruk akibat gempa berkekuatan 8,7 SR yang mengguncang Nias pada 28 Maret tahun lalu. Beberapa kelas yang merupakan bangunan semi permanen masih terlihat berdiri. Sementara, kelas yang dimaksud Sari Lase sebuah bangunan yang hampir tidak layak untuk disebut ruang kelas."Kalau hujan, air masuk ke kelas," akunya. Bagaimana tidak. Ruang kelas itu sekitar 3x3 meter persegi. Dinding yang terbuat dari kayu sebagian sudah copot, lapuk dimakan usia. Lantainya tanah. Sehelai kain yang sudah lusuh, menghitam dan nyaris koyak dijadikan pemisah antar ruang. Ruangan di sebelahnya juga tidak jauh lebih baik kondisinya dari kelas Sari Lase."Gereja di sebelah juga hancur. Mungkin kalau gereja tidak hancur kami bisa belajar di situ," Sari Lase manambahkan sembari menunjuk sebuah bekas bangunan yang kini tinggal gerbangnya saja. Tanda salib dan sebuah lonceng besar yang menandakan bahwa dulu pernah ada sebuah gereja di sebelah sekolah itu.Menurut Sari Lase, dia dan teman-temannya setiap hari harus belajar di ruangan tersebut. Di sebelah mereka adalah murid-murid kelas III. "Kami kelas IV dan di ruang ini," katanya.Di Nias, bukan sekolah Sari Lase saja yang tak kunjung diperbaiki akibat gempa. Murid-murid di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Gunung Sitoli juga harus belajar di bawah tenda yang sudah koyak di sana sini. Meski sekolah ini jauh lebih beruntung dari sekolah Sari Lase. Pasalnya, sudah terdapat beberapa material bangunan, pertanda sekolah akan segera dibangun."Memang masih sedikit sekolah yang dibangun paska gempa," aku Kepala Perwakilan Badan Rehabiliasi dan Rekonstruksi (BRR) Nias William Iskandar pada detikcom dalam peringatan setahun gempa Nias beberapa waktu lalu di Gunung Sitoli.Menurutnya, dari sekitar 700 sekolah yang rusak akibat gempa, baru 50 sekolah yang akan dibangun pada tahun ini. Dan 160 sekolah akan dibangun oleh UNICEF. Menurutnya kelambanan tersebut karena rusaknya jalur transportasi di Nias sehingga memperlambat pengiriman material ke daerah-daerah.Sementara itu menurut rilis UNICEF yang diterima detikcom, UNICEF akan segera membangun sekolah dengan struktur rancang jadi yang mudah dipasang. Dalam beberapa bulan ini, akan siap didirikan 40 sekolah di 43 lokasi."Keputusan mendirikan sekolah-sekolah ini dilandasi kekhawatiran UNICEF akan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membangun sekolah permanen sementara anak-anak sangat membutuhkan tempat belajar yang layak," tulis UNICEF dalam rilisnya. Diakui juga, inisiatif ini baru datang satu tahun setelah gempa bumi yang terjadi di Nias, sebuah pulau di ujung Barat Sumatera, pada tanggal 28 Maret 2005 lalu.Setiap sekolah akan memiliki ukuran yang bervariasi tetapi setiap unit sekolah siap pasang akan terdiri dari tiga ruang kelas. Diharapkan sejumlah 75 unit akan siap dipasang di 43 lokasi sekitar pulau, dengan biaya per unit sebesar $ 19,000 atau lebih kurang sebesar Rp 175 juta.Sekitar 25 sekolah sementara saat ini telah siap untuk didirikan. Sebanyak 12 bangunan sekolah siap pasang akan dibangun di Kabupaten Nias Selatan sementara 31 bangunan lainnya diperuntukan bagi Kabupaten Nias. Setelah rampung, sekolah-sekolah ini akan menampung sedikitnya 10.000 anak.Selanjutnya, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) akan membangun sekolah-sekolah ini atas nama UNICEF sekaligus menindaklanjuti kerjasama yang telah dijalin di Aceh.Dalam beberapa tahun kedepan, UNICEF akan menginvestasikan lebih dari $ 20 juta untuk pembangunan sekolah di Nias. Dana sebesar ini akan digunakan untuk membangun 160 sekolah, baik yang dikerjakan dalam bentuk perbaikan maupun yang akan dibangun sejak awal. Mudah-mudahan saja, salah satu bangunan sekolah itu adalah sekolah Sari Lase dan sekolah Sari Lase-Sari Lase lainnya di Nias. Sehingga tak akan ada pertanyaan lagi, kapan sekolah akan dibangun.
(jon/)











































