ADVERTISEMENT

BMKG Buat Pemodelan Tsunami hingga Pantai Jakarta, BPBD Siapkan Rencana Mitigasi

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 21 Agu 2021 19:56 WIB
Ilustrasi tsunami
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

BMKG membuat pemodelan tsunami yang sampai ke pesisir Pantai Jakarta jika gempa M 8,7 terjadi di zona megathrust di wilayah selatan Jawa. Merespons hal tersebut, BPBD DKI saat ini tengah menyiapkan rencana mitigasi yang bersifat kontingensi.

"Kami saat ini sedang berupaya menyusun rencana kontingensi, itu rencana kedaruratan, seandainya terjadi gempa bumi di selatan Pulau Jawa," kata Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat BPBD DKI Basuki Rakhmat saat dihubungi, Sabtu (21/8/2021).

Basuki mengatakan rencana kontingensi itu prakiraan dampak-dampak yang akan terjadi. Mulai potensi kerusakan bangunan di Jakarta hingga perkiraan dampak korban jiwa jika gempa itu terjadi.

"Namanya rencana kontingensi, itu jadi kita mengasumsikan akan terjadi gempa bumi di selatan Jawa, di selatan Banten dengan magnitudo seperti yang diinfokan BMKG maupun ITB sekitar 8,7 SC, dampak ke Jakarta, guncangannya bisa mencapai 6-7 mm. Artinya, untuk bangunan ataupun gedung yang kurang baik, ada kemungkinan itu akan mengalami kerusakan, ini yang sedang kita siapkan melalui rencana kontingensi. Kemudian dampaknya berapa orang kira-kira berapa banyak gedung itu yang sedang kami godok," tuturnya.

Basuki juga mengatakan pihaknya tengah memetakan proses evakuasi warga jika gempa terjadi. Dia menyebut gedung-gedung tinggi yang berfondasi kokoh bisa dijadikan tempat evakuasi.

"Kalau tsunami, itu kita harus mencari tempat yang tinggi, sehingga kita harus sudah memetakan tempat tempat ketinggian di sekitar masyarakat, itu di mana. Nanti di Jakarta untuk gedung-gedung tinggi yang kuat dan kokoh itu bisa dijadikan sebagai tempat evakuasi sementara jika terjadi potensi tsunami. Karena potensi tsunami ke Jakarta itu pasti akan ada jeda waktu setelah terjadinya gempa bumi," ujarnya.

Menurut Basuki, gedung yang termasuk kokoh itu gedung yang memiliki lebih dari 8 lantai. Basuki menyebut banyak gedung di Jakarta yang berlantai lebih dari 8.

"Di Jakarta kan banyak sekali gedung tinggi. Artinya, itu sudah bisa diidentifikasi sekaligus ketika gedung itu memang dia kuat menahan guncangan, itu bisa dijadikan tempat evakuasi. Kalau yang di atas 8 lantai, secara struktur itu biasanya memang sudah cukup kuat," imbuhnya.

Terkait Pemodelan BMKG

BMKG menyikapi hasil kajian Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait potensi tsunami dampak gempa megathrust di selatan Jawa yang bisa berdampak ke Jakarta. Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan riset diperlukan sebagai acuan langkah mitigasi tsunami. Dia meminta masyarakat tidak panik atas riset yang ada.

"Kajian ini dibuat bukan untuk membuat masyarakat resah, tetapi untuk menyiapkan strategi mitigasi yang tepat dan efektif guna mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi," kata dia.

Daryono mengatakan tsunami di Selat Sunda dapat dipicu oleh erupsi gunung api dan gempa tektonik yang bersumber di zona megathrust. Berdasarkan catatan sejarah, tsunami akibat erupsi Gunung Krakatau pada 1883 mampu menjangkau pantai Jakarta karena tinggi tsunami di sumbernya lebih dari 30 meter.

"Tsunami pada 2018 lebih kecil sehingga tidak sampai Jakarta," katanya.

BMKG pun melakukan pemodelan tsunami untuk mengetahui apakah tsunami akibat gempa megathrust Selat Sunda dapat mencapai Jakarta. Dia mengatakan pemodelan tsunami Selat Sunda akibat gempa magnitudo 8,7 yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa tsunami dapat sampai pantai Jakarta.

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tsunami sampai di pantai Jakarta dalam waktu sekitar 3 jam setelah gempa, dengan tinggi 0,5 meter di Kapuk Muara-Kamal Muara dan 0,6 meter di Ancol-Tanjung Priok," ucap dia.

Dia menjelaskan pemodelan tsunami diukur dari muka air laut rata-rata (mean sea level). Dalam kasus terburuk, lanjutnya, jika tsunami terjadi saat pasang, tinggi tsunami dapat bertambah.

Dia menambahkan, ketinggian tsunami juga dapat bertambah jika pesisir Jakarta sudah mengalami penurunan permukaan (subsidens).

"Pemodelan tsunami memiliki ketidakpastian (uncertainty) yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan persamaan pemodelan sangat sensitif dengan data dan sumber pembangkit gempa yang digunakan," jelasnya.

"Beda data yang digunakan, maka akan beda hasilnya, bahkan jika sumber tsunaminya digeser sedikit saja, maka hasilnya juga akan berbeda. Inilah sebabnya, selalu ada perbedaan hasil di antara pembuat model tsunami," tambahnya.

(eva/eva)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT