Pemilu di Thailand Dibayangi Boikot
Minggu, 02 Apr 2006 07:13 WIB
Bangkok - Di tengah gonjang ganjing politik, Thailand menggelar pemilu, Minggu (2/4/2006). Langkah ini diambil pemerintah untuk mengakhiri krisis politik di negeri gajah putih itu. PM Thailand Thaksin Shinawatra berharap kemelut politik bisa berakhir setelah adanya pemilu yang dipercepat ini. Sebab, dalam beberapa bulan terakhir ini, kota Bangkok terus diwarnai dengan aksi unjuk rasa anti pemerintah." Setelah pemilu, semua harus bergandeng tangan. Ini seperti olahraga, ketika peluit sudah ditiup wasit maka kita harus bersalaman setelah pertandingan berakhir," kata Thaksin seperti dilansir dari news.com.au, Minggu (2/4/2006).Selama ini, Thaksin dituduh melakukan korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan. Karena itu, demonstrasi yang didukung warga kelas menengah mendesak Thaksin mundur dari jabatannya. Kelompok oposisi dan Aliansi Rakyat Untuk Demokrasi (PAD) menyatakan akan memboikot pemilu ini. Mereka mengajak para pemilih untuk golput. Sedikitnya 45 juta warga Thailand terdaftar untuk menjadi pemilih dalam pemilu ini. Tempat Pemungutan Suara (TPS) sendiri akan dibuka pada pukul 08.00 waktu setempat hingga pukul 15.00. Thaksin sendiri berharap kawasan pedesaan Thailand tetap mendukung partainya. Dalam pemilu ini, suara pemilih warga desa dipandang menentukan. Apalagi, warga perkotaan sudah banyak yang tidak mendukung dirinya.
(ton/)











































