SBY Kuliahi 150 Calon Doktor
Sabtu, 01 Apr 2006 18:50 WIB
Jakarta - Kepiawaian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam berpidato memang patut diacungi jempol. Ia tidak hanya mampu memukau sejumlah tamu dan pejabat di forum resmi. 150 Calon doktor pun dibuat terkesima saat mengikuti kuliah SBY.Memang, pertemuan di Hotel Grand Hyatt, Jl MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (1/4/2006), bukan yang seperti biasa. Sebab, SBY didaulat menjadi dosen tamu untuk program doktoral menajemen bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB). Tidak ada yang spesial dalam ruangan di hotel ini. Yang terlihat hanyalah 2 layar proyektor yang mengapit podium. Yang berbeda hanyalah ruangan kelasnya saja. Biasanya, kuliah seperti ini digelar di Kampus IPB Baranangsiang atau Darmaga, Bogor.Kuliah umum ini juga menandai peluncuran program doktoral menajemen bisnis dan pelepasan alumni MMA IPB 2005-2006.SBY sendiri tampaknya sangat menikmati peran barunya sebagai dosen. Ia memaparkan materinya secara serius. Tapi ia sesekali melempar pertanyaan bernada canda pada para mahasiswanya tentang teori ekonomi"Saya praktisi pemerintahan. Saya kedepankan strategi dan kebijakan yang tidak mungkin berhasil tanpa kerja sama kita. Dalam rangka itulah saya berikan kuliah saya. Rileks saja. Hehehe....," kata SBY sambil tersenyum lebar saat membuka kuliah.Materi yang dibawakan SBY berjudul "Meningkatkan Daya Saing dan Iklim Investasi Pada Era Transisi Demokrasi". Isinya adalah strategi dan kebijakan pemerintah dalam memulihkan perkonomian nasional setelah krisis ekonomi 1998.Materinya dimulainya dengan pemaparan persaingan menarik minat investor di Asia. SBY mengatakan China dan India merupakan pemain utama di kawasan ini. Padahal sebelumnya, posisi itu diduduki Indonesia. "Ketika itu pertumbuhan ekonomi kita dipuji-puji dan dijuluki macan Asia," cetus SBY .Begitu terjadi krisis ekonomi, predikat itu harus dilepaskan. Nilai tukar rupiah anjlok drastis. Banyak perusahaan di dalam negeri yang gulung tikar dan pengangguran meluas. Situasi diperburuk dengan meledaknya krisis komunal di beberapa daerah."Cost of crisis mencapai Rp 600 triliun. Tapi yang kembali pada negara kira-kira hanya 20 persen-nya saja," papar SBY.Untuk memperbaikan keadaan, pemerintah menjalankan tiga strategi sekaligus. Pertama, meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui investasi dan ekspor. Dua, membangkitkan sektor riil untuk membuka lapangan kerja baru. Tiga, revitalisasi pertanian. Sesi tanya jawab yang dibuka di penghujung acara, berlangsung serius. Karena peserta kuliah pun bukan mahasiswa biasa, tapi sudah sarat pengalaman di bidangnya masing-masing. Seperti Rudjito (mantan Dirut BRI), Aviliani (pengamat ekonomi) dan I. Sumardjito (direktur peraturan perpajakan).Ketiganya mempersoalkan kontrasiksi antar aturan perundangan, kebijakan pemerintah pusat yang tidak bisa berjalan di daerah dengan alasan otonomi daerah dan penegakan aturan pajak yang tidak konsisten. Dan SBY pun terlihat tenang dalam menjawab.Wah, ternyata hebat juga ya Pak dosen eh Pak Presiden..
(ton/)











































