e-Life

Punya Gangguan Fetish, Jangan Denial!

dtv - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 15:33 WIB
Jakarta -

Jika seseorang memiliki hasrat seksual terhadap benda mati atau bagian tubuh non-genital, kondisi inilah yang disebut dengan fetish. Pada kadar tertentu, hal ini bisa dianggap wajar. Namun, jika sudah mengganggu, bahkan membahayakan orang di sekitar, ini sudah dapat dikategorikan sebagai gangguan.

Menurut dosen psikologi Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, MPsi, Psikolog, terdapat kriteria tertentu sehingga seseorang dapat dikatakan memiliki gangguan fetish.

"Menurut buku 'Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder' ya, edisi ke-5, ada kriteria tertentu seseorang dikatakan mengalami gangguan fetish. Setidaknya dalam enam bulan dia mengalami dorongan fantasi seksual atau perilakunya berulang dan sangat intens, melibatkan benda mati atau bagian tubuh non-genital. Minimal 6 bulan. Kalau masih baru 1 bulan, berarti dia masih punya gejala gitu," jelasnya di acara e-Life detikcom.

Kabar baiknya, gangguan ini bisa diterapi. Namun, pertama-tama, orang yang memiliki gangguan ini perlu menyadari terlebih dahulu mengenai kondisinya, jangan ada denial.

"Akui dulu gitu ya, jadi aware dulu dengan apa yang terjadi pada dirinya. Kalau ternyata saya memang memiliki gejala-gejala perilaku seksual yang menyimpang, saya harus segera pergi ke konselor, gitu," kata Dian.

Dian juga memaparkan gangguan fetish ini biasanya juga disertai dengan gangguan lain, seperti gangguan kecemasan. Maka, di sinilah peran ahli kejiwaan dalam menangani kondisi seperti ini.

"Biasanya beriringan juga dengan gangguan kecemasan gitu ya, dia merasa cemas kalau nggak mendapatkan gambar-gambar yang dia harapkan, atau tidak mendapatkan benda non-genital yang dia harapkan, itu juga pasti dia akan cemas. Nah, sebetulnya itu harus segera dikontrol. Supaya tidak mengalami kondisi stres yang berlebihan atau berkepanjangan sehingga menimbulkan depresi," papar Dian.

Peran obat dalam terapi pemulihan gangguan fetish juga bisa dilakukan jika dirasa perlu. Hal ini bisa dikombinasikan dengan konseling untuk mencari akar dari gangguan yang dialami.

"Kalau perlu, dia bisa pergi ke psikiater untuk ditenangkan dulu ya dengan obat-obatan. Diterapi juga oleh kita yang sebagai psikolog, lebih kepada terapi kognitif. Lalu konseling, biasanya konseling dengan dirinya. Kalau dia punya pasangan, berarti konseling dengan pasangannya juga. Diskusi dulu biasanya, mencari tahu akar masalahnya," jelas Dian.

Tonton video lengkap e-Life yang mengupas fetish di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]



(gah/gah)