e-Life

Jika Kita Jadi Korban Nafsu Aneh Fetish

dtv - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 14:50 WIB
Jakarta -

Kasus fetisisme mata perban yang sempat ramai di media sosial tentunya membuat kita lebih waswas. Bagaimana jika selanjutnya foto kitalah yang akan dijadikan objek fantasi seksual oleh orang asing di internet?

Perlu diketahui sebelumnya, fetisisme adalah gangguan seksual, kondisi di mana seseorang memiliki hasrat seksual pada benda mati atau anggota tubuh non-genital. Pada tingkatan tertentu, kondisi ini bisa mengganggu orang lain, terutama jika pelaku memaksa orang lain untuk memenuhi fetish-nya tanpa persetujuan bersama.

Menurut Alvin Theodorus L selaku Co-Founder Tabu.id, sebuah komunitas edukasi seksual dan kesehatan reproduksi, seseorang harus lebih menyaring apa saja yang bisa dibagikan di media sosialnya.

"Kita harus memahami apa yang bagi kita merupakan hal yang privat, yang kita tuh nggak mau diketahui khalayak ramai, mana yang 'ya udah siapa aja boleh tahu'. Internet itu tempat yang sangat terbuka, open access. Ketika kita sudah meng-upload, selalu ada risiko untuk diambil oleh orang lain dan disalahgunakan gitu," jelasnya di acara e-Life detikcom.

Selain itu, Alvin mengingatkan bahwa kita memiliki hak berkomunikasi digital dengan nyaman sehingga jangan ragu untuk melakukan blok terhadap akun yang sudah mengganggu kenyamanan kita di internet.

"Kita punya hak untuk berkomunikasi secara nyaman. Jadi kalau misalkan orang asing atau bahkan teman yang berkomunikasi dengan kita via DM, via Twitter, dan itu membuat kita merasa nggak nyaman, ketahuilah, kita punya hak untuk ngeblok orang itu," kata Alvin.

Menanggapi hal ini, dosen psikologi Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, MPsi, Psikolog, juga menggarisbawahi poin penting mengenai kesehatan mental seseorang yang menjadi korban kasus fetisisme.

"Foto kita yang biasa gini aja bisa direkayasa menjadi foto yang lebih vulgar. Kita memang nggak bisa menghindar dari kondisi seperti itu. Menurut saya sih, kalau anak-anak remaja gitu ya yang curhat ke saya, itu saya selalu bilang, 'Kamu berani nggak untuk ngungkapin ini ke orang tua?' dan mereka butuh waktu untuk mengaku bahwa dia menjadi korban dari perilaku fetisisme. Konseling dan sebagainya itu bisa membantu untuk membuat orang akhirnya jadi berani dan tahu bahwa harus hati-hati ketika kita menggunakan media sosial," papar Dian.

Tonton video e-Life selengkapnya tentang fetish di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]



(gah/gah)