HNW Ingatkan Catatan Historis Umat Islam bagi Kemerdekaan Indonesia

Khoirul Anam - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 10:45 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Memperingati HUT RI ke-76, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menegaskan kembali nilai historis dari jasa-jasa para ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri.

Pada kegiatan yang diselenggarakan virtual oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jakarta Pusat pada Minggu (15/8), Hidayat menekankan pentingnya nilai sejarah bagi kemajuan perababan sebagaimana dengan semangat Al-Qur'an. Untuk itu, ia mengatakan bahwa slogan Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

"Di antaranya adalah merawat catatan emas sejarah para ulama dan umat Islam yang bersama para pejuang dari berbagai kalangan dan latar belakang Agama/Organisasi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka seharusnya kita juga Jas Hijau: Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama, Umaro dan Umat," ujar Hidayat dalam keterangannya, Selasa (17/8/2021).

Anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta II ini juga mengingatkan pentingnya menempatkan secara utuh catatan historis jasa ulama, umara, dan umat Islam bagi kemerdekaan Indonesia.

"Para ulama dan Santri dari beragam latar belakang Ormas (seperti NU, Muhammadiyah, PUI, Persis, dan lain-lainnya) dan Orpol Islam (seperti Syarikat Islam, PII, Masyumi dan lain-lainnya), para Habaib seperti Habib Ali Kwitang, Habib Idrus alJufri, Habib Husain alMutahar dan para santri menjadi yang terdepan dalam menghadirkan dan mempertahankan kemerdekaan RI," jelas Hidayat.

"Juga para umara seperti Sultan Hamengkubuwono IX, sebagaimana para Raja Mataram dan Yogyakarta sebelum menyandang gelar Khalifatullah ternyata totalitas memperjuangkan dan mempertahankan Republik Indonesia yang baru lahir, salah satunya dengan menggabungkan Kerajaan Mataram ke RI dan menyumbangkan 6 juta Gulden kepada pemerintah RI," imbuhnya.

Ia menambahkan ada juga kisah Sultan Syarif Kasim II yang menggabungkan Kesultanan Islam Siak kepada RI dan memberi hibah sebesar 13 juta Gulden. Serta Sultan Syarif Hamid alQadri II di Pontianak yang menggabungkan kerajaannya ke RI dan menyumbang 300 senjata serta meriam untuk mendukung kemerdekaan RI.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menegaskan persatuan yang dicontohkan para ulama, habaib, dan umara bersama pejuang-pejuang bangsa merupakan pelajaran terpenting di masa kini.

Menurutnya, semua catatan sejarah emas itu membuktikan bahwa Umat Islam bersatu dalam rangka memenangkan perjuangan bersama pejuang-pejuang kebangsaan lainnya. Untuk itu, ia menilai pelajaran tersebut menjadi semakin relevan bagi ulama dan umat di masa kini untuk tidak terpecah-belah dan semakin kokoh merawat kemerdekaan bangsa yang terwujud 'Atas berkat rahmat Allah SWT'.

"Sebagaimana termaktub pada alinea ketiga Pembukaan UUD NRI 1945. Jika dahulu ulama dan umat bersatu-padu melawan ancaman Republik Indonesia seperti komunisme, maka pada hari ini tidak kalah penting kita menjaga agar sejarah tersebut tidak diputarbalikkan. Atau dijadikan ajang untuk mengadu domba di antara umat dan ulama dan habaib. Dan adu domba antara Umat Islam dengan Negara maupun TNI/Polri. Insya Allah sampai saat ini seluruh elemen umat Islam bersatu-padu menentangnya." terangnya.

Hidayat berharap agar segala upaya distortif yang mengancam bangsa dan berisiko memecah belah bisa gagal dengan bersatunya umat Islam. Khususnya dalam menjaga dan merawat kemerdekaan Indonesia.

Ia pun menyampaikan pentingnya persatuan dalam merawat kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara melawan segala bentuk penjajahan. Sebab, menurutnya kemerdekaan merupakan suatu hal yang mahal harganya dan penting untuk dirawat. Caranya dengan bersatu padu melawan segala bentuk penjajahan gaya baru.

"Baik penjajahan sosial-budaya dengan serangan dekadensi moral melalui berbagai media. Penjajahan ekonomi dalam bentuk jeratan utang. Penjajahan dalam bentuk pandemi COVID-19. Termasuk juga penjajahan ideologi Komunisme yang berusaha dinormalisasi oleh sebagian kalangan," tutur Hidayat.

Ia pun menilai masyarakat berkewajiban melawan penjajahan Israel terhadap Palestina. Mengingat Palestina ialah negara sahabat yang sedari awal telah diperjuangkan hak-haknya oleh Presiden Soekarno.

"Dengan kita bersatu-padu melawan ancaman penjajahan, itu merupakan cara kita merawat dan mensyukuri kemerdekaan yang merupakan anugerah tak ternilai dari Allah SWT," pungkasnya.

(ega/ega)