FUI: Inggris Harus Bisa Memahami Hati Umat Islam
Sabtu, 01 Apr 2006 09:17 WIB
Jakarta - Hasil pertemuan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghasilkan beberapa kesepakatan terkait hubungan Islam Indonesia dan Non Muslim di Inggris. Salah satunya membentuk Badan Penasihat Islam Indonesia-Inggris.Namun bagi beberapa kalangan Islam, hal itu harus dilanjutkan dengan tindakan kongkrit dari Inggris terutama mengenai kebijakannya kepada dunia Islam."Inggris harus bisa menindaklanjuti dengan memahami kekecewaan umat Islam atas serangan mereka ke Irak bersama Amerika," kata Ketua Forum Umat Islam Indonesia (FUII) Ustad Mashadi ketika dihubungi detikcom Sabtu (1/4/2006).Menurut Mashadi, sulit rasanya bagi umat Islam untuk dapat memahami alasan Inggris dan Amerika melakukan invasi ke negara kayak minyak itu. "Sehingga harus ada perubahan dari pemerintah Inggris atas kebijakan tersebut," tambah Mashadi.Jadi lanjut Mashadi, kesepakatan membentuk Badan pertimbangan Islam Indonesia Inggris tersebut harus diikuti dengan adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dari kedua pihak. "Yang terpenting Inggris harus bisa memahami gejolak hati umat Islam," tandas Mashadi.Selain itu jelas Mashadi diperlukan kesejajaran berdiri antara Inggris dan umat Islam Indonesia. Hal ini penting menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan berkeadilan. "Tapi saya pesimis hal ini mau dilakukan Inggris beserta koleganya. Sebab mereka juga tidak mau kehilangan agenda pribadinya," papar Mashadi.Oleh karena itu Mashadi meminta Pemerintah Indonesia selaku wakil dari 90 persen warganya yang beragama Islam harus dapat menyampaikan perasaan umat Islam Indonesia kepada Inggris. "Pemerintah harus tegas dan bisa menyampaikan aspirasi umat. Jangan sampai kesepakatan ini hanya untuk meninabobokan saja," tandas mantan Anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera ini.
(ahm/)











































