Komnas Perempuan soal Fenomena Pilih Tak Punya Anak: Hak Asasi Perempuan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 07:41 WIB
Portrait showing parents hands and babies feet.
Ilustrasi bayi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Avril Morgan)
Jakarta -

Komnas Perempuan bicara soal pilihan pasangan untuk tak memiliki anak, seperti yang diutarakan oleh YouTuber Gita Savitri. Menurut Komnas Perempuan, keputusan memiliki atau tidak memiliki anak merupakan hak asasi wanita.

Komisioner Komnas Perempuan, Rainy Hutabarat, awalnya bicara soal tubuh perempuan sebagai milik perempuan. Dia mengatakan pemaksaan kehamilan merupakan kekerasan terhadap perempuan.

"Tubuh perempuan bukanlah milik laki-laki atau keluarga pihak laki-laki dan tujuan pernikahan bukanlah semata reproduksi. Pemaksaan kehamilan merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan," ujar Rainy Hutabarat kepada wartawan, Senin (16/8/2021) malam.

Menurut Rainy, saat ini makin banyak jumlah perempuan yang memilih tidak memiliki anak dengan alasan-alasan tertentu. Di Eropa, katanya, ada subsidi negara bagi perempuan yang mau melahirkan anak.

"Namun, keputusan memiliki anak merupakan hak asasi perempuan. Pasangan atau suami tak berhak memaksa berapa jumlah anak dalam pernikahan berdasarkan kemauannya sendiri. Kesepakatan dengan perempuan yang menjadi pasangannya penting karena perempuan memiliki otonomi atas tubuh atau rahimnya," jelas Rainy.

Rainy menjelaskan keputusan memiliki atau tidak memiliki anak memiliki nilai plus dan minusnya sendiri. Tidak ada pilihan yang dinilainya sebagai pilihan terbaik.

"Mereka menjadi pasangan yang dewasa dan tua bersama di dalam kasih sayang walau tak memiliki anak. Perlu diingat juga, ada pasangan suami-istri yang tak memiliki anak karena mengalami hambatan kesehatan," jelas Rainy.

Rainy kemudian bicara soal keputusan tidak memiliki anak dari sudut pandang agama dan budaya. Di Indonesia, katanya, banyak budaya yang memandang pentingnya memiliki anak biologis dalam pernikahan.

"Hal ini terkait paut dengan keberlanjutan keturunan, marga atau nama orang tua dan ahli waris. Orang Batak mengatakan, 'Anakkon hi do hamoraon di ahu' (anak bagiku merupakan kekayaan). Sering pula kita mendengar ucapan 'Anak adalah titipan Allah yang harus dijaga' atau 'Anak adalah amanah dari Allah'. Bagi masyarakat, demikianlah nilai anak dalam pernikahan," kata Rainy.

"Bahkan anak merupakan tujuan pernikahan untuk melanjutkan keturunan. Pasangan suami-istri yang tak memiliki anak juga dipandang 'kurang mujur' atau 'sial'," sambungnya.

Fenomena Memilih Tidak Punya Anak

Fenomena tidak mau memiliki anak ini salah satunya disampaikan oleh YouTuber, Gita Savitri. Dia sempat bicara soal alasannya memilih childfree. Menurutnya memiliki anak atau tidak itu adalah sebuah pilihan dalam hidup.

"Kak kalau seandainya tiba-tiba dikaruniai anak gimana perasaannya?" tanya seorang warganet.

"Di kamus idup gue, 'tiba-tiba dikasih' is very unlikely (sangat tidak mungkin)," ujar Gita Savitri dalam sebuah unggahan Instagram Stories.

Menurutnya memiliki anak merupakan tanggung jawab yang besar. Dia berpendapat harus ada rencana yang matang sebelum memutuskan memiliki anak. Istri Paul Andre Partohap ini mengaku sadar kalau pilihannya bakal menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, khususnya di Indonesia.

"IMO (Menurut pendapatku) lebih gampang nggak punya anak daripada punya anak. Karena banyak banget hal preventif yang bisa dilakukan untuk tidak punya anak," ujar YouTuber yang kini masih tinggal di Jerman tersebut.

Lihat juga video 'Komnas Perempuan Sebut Teroris Manipulasi Peran Gender':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/haf)