ADVERTISEMENT

Komisi IX DPR Minta Harga Tes PCR Diturunkan

Isal Mawardi - detikNews
Sabtu, 14 Agu 2021 06:29 WIB
Penumpang bus AKAP yang akan mudik dan kembali dari kampung halaman antre menjalani tes cepat antigen di Terminal Terpadu Pulo Gebang,  Jakarta Timur, Selasa (18/5/2021). Penumpang yang hasil tesnya reaktif wajib menjalani isolasi mandiri di ruangan yang disediakan di terminal sebelum menjalani tes usap PCR dan dibawa ke rumah sakit bila positif Covid-19.
Ilustrasi tes PCR (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IX DPR Fraksi PKB Nihayatul Wafiroh berkomentar terkait mahalnya harga tes PCR di Indonesia. Nihayatul meminta pemerintah menurunkan harga tes PCR.

"Harga PCR kita masih sangat mahal PCR kita, jadi saya sepakat PCR diturunkan," ujar Nihayatul kepada detikcom, Jumat (13/8/2021).

Nihayatul menduga mahalnya harga tes PCR di Indonesia karena alat-alat tes PCR diimpor dari luar negeri. Menurutnya, Indonesia perlu memasifkan dalam memproduksi alat tes PCR sendiri.

"Kita bisa memberdayakan produk dalam negeri sesuai perintah Pak Jokowi kita juga menekan anggaran yang ada sehingga PCR bisa terjangkau, kita tahu masyarakat sangat keberatan," tegas Nihayatul.

"Cari alternatif lain agar harga PCR tidak mahal, ganti dengan produk dalam negeri sehingga biaya bisa ditekan," lanjutnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI F-PDIP Charles Honoris pun menyoroti perbedaan harga tes PCR yang jauh dengan India. Dia menilai harga tes PCR di RI saat ini memberatkan.

"Tentunya kita berharap masyarakat Indonesia juga bisa mendapatkan fasilitas uji swab PCR dengan harga yang terjangkau seperti di India. Saat ini harga uji swab PCR dirasa memberatkan bagi banyak orang. Perbandingan harganya juga jauh sekali antara India dan Indonesia," ujar Charles kepada detikcom, Jumat (13/8/2021).

Charles meminta pemerintah harus mempelajari apa yang dilakukan oleh pemerintah India. Salah satunya terkait masalah insentif bagi produsen peralatan PCR.

"Misalnya, mungkin dengan pemberian insentif bagi produsen peralatan swab PCR agar harga jual bisa lebih murah atau strategi lainnya. Apalagi saat ini swab PCR dijadikan ketentuan untuk melakukan berbagai aktifitas," kata Charles.


Sementara itu, anggota Komisi IX DPR lainnya, Saleh Partaonan Daulay, mendorong agar pemerintah melakukan perbandingan dengan harga tes PCR negara lain. Satu di antaranya dengan India yang disebut-sebut harga sekali tes PCR-nya kurang dari Rp 100 ribu.

"Kalau dibandingkan, hampir mencapai 1 banding 10. Artinya, harga 1 kali PCR di Indonesia, sama dengan 10 kali di India. Kalau di Indonesia, sekali PCR sekitar Rp 900 ribu, sementara di India hanya sekitar Rp 96 ribu," ucap Saleh.

Menurut Saleh, jika pemerintah mengupayakan agar harga PCR lebih murah, maka cakupan testing akan menjadi luas. Karena masalah harga sudah tidak menjadi kendala bagi warga.

"Selama ini, jumlah orang yang melakukan test sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah harga yang terlalu tinggi. Tidak semua orang bisa menjangkau. Akibatnya, hanya orang yang betul-betul membutuhkan kelengkapan administratif yang melakukan test. Katakanlah, misalnya, orang yang bepergian lewat bandara, perlu menunjukkan hasil PCR," kata Saleh.

Sependapat dengan Nihayatul, ia berharap pemerintah tak perlu lagi mengimpor alat tes PCR dari luar negeri dan lebih mengandalkan produk-produk lokal.

"Kalau bisa memang produknya adalah lokal. Tetapi, kalau produk lokal tidak cukup kompetitif dari sisi harga, ya kebijakan impor bisa dijadikan sebagai alternatif," tuturnya.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya

Simak video 'Cerita WNI di India soal Harga Tes PCR Jauh Lebih Murah Dibanding RI':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT