Suka Duka Relawan Vaksinasi Merdeka di Slum Area: Gerai Pengap Tapi Semangat

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Kamis, 12 Agu 2021 21:11 WIB
Relawan vaksinasi
Relawan Vaksinasi Merdeka Aulia Foto: Rakha/detikcom
Jakarta -

Vaksinasi di DKI Jakarta setiap hari digenjot untuk mengejar herd immunity sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, di balik itu semua ada relawan-relawan yang rela terjun langsung menjangkau masyarakat hingga ke permukiman-permukiman kumuh di Ibu Kota.

Salah satunya Aulia (20), yang bergerak cepat menyambut warga yang tiba di Gerai Vaksinasi Merdeka 286, Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut). Bukan tanpa alasan Aulia senang saat ada warga yang datang untuk mengikuti vaksinasi COVID-19.

"Memang minat masyarakat sangat kurang. Jadi (di sini) ngantre nggak panjang, itu PR-nya. Jadi kita harus narik-narikin masyarakatnya supaya mau divaksin. Untuk yang narik-narikin masyarakat untuk vaksin kemudian dapat sembako itu dari pihak kepolisiannya," kata Aulia, relawan di gerai Vaksinasi Merdeka kepada wartawan, Kamis (12/8/2021).

Aulia mengatakan sejak awal gerai Vaksinasi Merdeka berdiri, 1 Agustus kemarin, personel kepolisian tak berhenti woro-woro mengajak masyarakat di perkampungan nelayan yang belum vaksin untuk mendatangi gerai Vaksinasi Merdeka. Maka setibanya di gerai, Aulia dan relawan lainnya sigap menyambut dengan memberikan edukasi kepada warga, terutama yang masih takut disuntik.

"Minat masyarakatnya masih kurang untuk vaksin. Jadi dari tim Polri-nya juga, mereka harus woro-woroin masyarakatnya, ngedorong masyarakatnya agar mau divaksin," cerita Aulia.

"Kemudian tugas kita sebagai, yang bisa dibilang (relawan) non nakes dan nakesnya, membantu pihak Polri memberikan pemahaman untuk masyarakat bahwa vaksin itu nggak bakal kenapa-kenapa kok. Ada efek setelah vaksin iya, seperti demam, ngantuk. Tetapi kita kasih pemahaman bahwa itu nggak apa-apa, nggak bakal berlangsung lama efek itu," sambung dia.

Relawan vaksinasiSuasana di lokasi vaksinasi Foto: Rakha/detikcom

Pantauan detikcom di lokasi, gerai Vaksinasi Merdeka 286 sangat sederhana. Sebelumnya, gerai adalah Posko Sekretariat RW 22 Muara Angke yang disulap hingga memungkinkan menjadi titik vaksinasi warga.

Luas gerai sekitar 12 meter persegi, memanjang. Gerai hanya beralaskan semen dengan atap asbes. Pondasi dan rangka atap gerai hanya kayu.

Namun pihak penyelenggara vaksinasi ini sedikit mendekor gerai dengan spanduk vaksinasi merdeka di sisi depan dan kain merah putih. Keliling area gerai juga ditutupi kain merah putih.

Kayu di bagian atap gerai dipasangi bendera merah putih kecil yang terbuat dari plastik dan pada bagian atas kain merah putih juga dipasangi ornamen rumbai merah putih.

"Panas, tapi karena sudah kebiasaan jadi nggak panas. Angin alam lebih segar. Areanya ya memang kumuh, kotor, jorok, tapi ya sudah tugas kita. Mau nggak mau ditempatkan di mana saja, harus mau. Itu salah satu tantangan juga," kata Aulia.

Masih dari pantauan detikcom, berdiri tiga kipas angin yang diarahkan ke barisan kursi peserta vaksinasi dan ke meja relawan. Meski demikian, udara di dalam gerai terasa agak pengap. Lebih dari 20 warga antre sembari duduk untuk divaksin.

"Hari ini yang vaksin lumayan. Dapat 120 lebih (peserta). Sehari ditarget 200 dosis. Kenapa masih cuma 100-an orang (yang divaksin per hari), karena dari masyarakatnya masih ada yang takut-takut," jelas Aulia.

"Ada rumor juga yang habis divaksin bakal sakit, bakal meninggal. Jadi masih sedikit yang mau berpartisipasi, jadi harus didorong terus masyarakatnya," sambung Aulia.

Di Gerai Vaksinasi Merdeka 286, Aulia bertugas dengan satu relawan, Ahmad Wahidin dan dua vaksinator dari kepolisian. Namun, tambah Aulia, timnya dibantu oleh kelompok ibu-ibu Dasawisma RW 22 Muara Angke.

"Tugasnya ibu-ibu Dasawisma melakukan pengecekan, pendaftaran masyarakat. Sebagian lagi ibu-ibu Dasawisma di bagian sembako. Setelah masyarakat melakukan vaksin dikasih bantuan beras agar masyarakat semangat untuk vaksin," terang Aulia.

Aulia mengatakan setiap hati, Gerai Vaksinasi Merdeka buka dari pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. "Sekarang ada penambahan waktu dari jam 08.00 sampai 15.00 WIB. Kenapa ditambah, ya karena alasan pukul 12.00 sedikit (warga yang vaksin)," ungkap Aulia.

Warga yang tak kunjung vaksin kerap beralasan pekerjaan mereka belum selesai pada siang hari. Kadang kerjaan belum selesai jam segitu. Biar ibu-ibu rumah tangga yang kerjaannya belum selesai siang, bisa divaksin sore. Biar target kita tercapai juga," imbuh Aulia.

Aulia pun mengaku senang bisa terjun langsung dalam kegiatan vaksinasi COVID-19. "Saya semangat-semangat aja. Apapun kondisinya. Justru alhamdulillah, meskipun gerainya sederhana tapi bisa kasih manfaat buat warga."

Masih di Gerai 286 Muara Angke, detikcom bertemu salah satu polwan, AKP Putri Harleyanti yang bertanggung jawab mengawasi berjalannya kegiatan Vaksinasi Merdeka. Putri mengungkapkan memang tak ada kewajiban dari atasan kepada dirinya untuk terjun langsung ke gerai vaksinasi, namun dia merasa tak bisa lari dari tanggung jawab sebagai abdi negara di masa pandemi ini.

"Sempat saya berpikir untuk menarik diri, tidak aktif dalam relawan. Namun memang karena saya melihat semua orang sibuk berperan dalam penekanan (kasus) COVID, tidak bisa kita melarikan diri. Jadi saya berusaha meyakinkan diri saya," ujarnya.

Relawan vaksinasiAKP Putri Harleyanti jadi relawan vaksinasi Foto: Rakha/detikcom

Sehari-hari Putri menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Pelabuhan Tanjung Priok. Putri mengaku tertantang menjadi relawan di Gerai 286 karena mendengar masyarakat setempat masih ada yang skeptis terhadap vaksinisasi.

"Karena mereka menyatakan begini, kalau saya meninggal emang Ibu mau tanggung jawab. Tapi kami berusaha meyakinkan bahwa kalau dalam kondisi yang sehat dan kita punya relawan yang akan tanya kondisi kesehatan, kronologis pekerjaan, juga mengecek kesehatan. Intinya ada prosesnya, tidak langsung serta merta menyuntik," cerita Putri.

Putri pun miris saat tahu jumlah warga yang tervaksinasi di RW 22 Muara Angke masih di bawah 50 dari total 5.000 hingga 6.000 warga. Selain skeptis soal vaksin COVID-19, Putri mendengar banyak warga yang tak sempat vaksin lantaran sibuk bekerja, ditambah lokasi vaksinasi jauh dari tempat tinggal.

"Mereka ini kan ABK, bekerja siang dan malam. Melaut berbulan-berbulan," tuturnya.

(hri/fjp)