Tawur Agung di Candi Prambanan Tanpa Ogoh-Ogoh
Rabu, 29 Mar 2006 16:47 WIB
Yogyakarta - Prosesi Tawur Agung Kesanga Tahun Saka 1928 yang digelar di pelataran Candi Prambanan tanpa arak-arakan Ogoh-ogoh. Meski demikian ribuan umat Hindu se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, Rabu (29/3/2006) dengan khusyu menggelar Tawur Agung Pengrupukan menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1928 yang jatuh hari Kamis (30/3/2006).Sebelum dilakukan doa bersama di sisi timur Candi Prambanan, pada ukul 09.00 WIB dilakukan prosesi pradhaksina yakni mengelilingi Candi Syiwa yang ada di tengah-tengah candi sebanyak satu kali sambil mengidungkan puji-pujian yang dipimpin pendeta. Suasana religius sangat terasa selama prosesi berlangsung. Ribuan umat Hindu datang berbondong-bondong dari berbagai wilayah dengan mencarter bus, truk, mobil pribadi maupun kendaraan roda dua. Dengan tertib sebelum mengikuti doa bersama, mereka menempatkan sesaji-sajian di tempat yang telah disediakan panitia. Upacara Tawur Agung Kesanga ini merupakan prosesi ritual yang dilaksanakan satu hari menjelang hari raya Nyepi. Makna dari prosesi ini adalah umat Hindu melakukan penyucian dunia agar manusia dapat hidup selaras dengan alam semesta dan untuk menebalkan tekad dalam melestarikan keharmonisan alam.Meski tanpa Ogoh-ogoh seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesi tetap berjalan khidmat dengan nuansa Jawa. Kali ini prosesi Tawur Agung juga diisi dengan cuplikan sendratari Mahabharata. Sendratari persembahan dari umat Hindu Klaten itu menggambarkan pertarungan antara tokoh pewayangan Bima/Werkudara melawan Dursasana ataua antara kebaikan dan keburukan. Sendratari diakhiri dengan diputarnya Gunungan Mandara Giri sebagai ungkapan kebaikan yang diwujudkan sebagai dewa.Pada saat umat Hindu melakukan doa bersama pukul 11.00-13.00 WIB, Candi Prambanan ditutup untuk umum sementara. Pemujaan Tawur Agung Kesanga kali ini dipimpin Begawan Istri Agung Gayatri dan Begawan Putra Manuaba."Tawur agung kesanga saat ini memang tidak ada Ogoh-ogoh. Namun maknanya sama yakni mewisuda bumi atau membersihkan bumi dari segala kotoran," kata Ketua Panitia I Gusti Hendrata Wisnu kepada wartawan di sela-sela acara Perayaan Nyepi Tahun Saka 1928 di Candi Prambanan, Rabu (29/3/2006).Menurut Hendrata, Ogoh-ogoh itu adalah simbol kejelekan atau bhuta yang merupakan sebuah karya seni budaya sehingga boleh ditiadakan. Dengan catatan segala bentuk sesaji-sajian, bebanten atau persembahan yang merupakan syarat sebuah upacara harus tetap ada.Selain itu kata Hendrata, perayaan Nyepi tahun ini juga menggambarkan bentuk kesederhanaan. Hal itu juga seusia dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang penuh keprihatinan. "Yang penting dalam upacara saat ini adanya sesaji sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa," katanya.Dijelaskannya, puncak seluruh upacara adalah Catur Berata Penyepian. Umat Hindu tidak menyalakan api (amati geni), tidak melaksanakan aktivitas kerja (amati karya), tidak berpergian (amati lelungan), dan tidak mendengarkan atau membunyikan bunyi-bunyian (amati lelanguan). Ritual tersebut berlangsung mulai Kamis (30/3/2006) pukul 06.00 selama 24 jam.
(nrl/)











































