Blak-blakan Eko Hartono & Firman M. Nur

Tanpa Jemaah Umrah Indonesia, Arab Saudi Merugi

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 11 Agu 2021 06:47 WIB
Jakarta -

Sejak awal pekan ini ibadah umrah kembali dibuka. Kerajaan Arab Saudi menargetkan ada sekitar 60 ribu Jemaah perhari atau 2 juta perbulan. Target yang ambisius ini kemungkinan akan sulit dipenuhi sebab negara-negara utama pengirim Jemaah umrah justru masih dilarang.

"Saudi punya target Jemaah umrah 22 juta dalam 11 bulan, ini melebihi jumlah umrah di masa normal pada 2019 yang dikisaran 15 juta Jemaah," kata Ketua Umum AMPHURI (Asosiasi Muslim Penyelenggaran Haji dan Umrah Republik Indonesia) kepada Tim Blak-blakan detik.com, Selasa (10/8/2021).

Untuk diketahui, Indonesia merupakan pengirim Jemaah umrah terbesar kedua (sekitar 1,2 juta orang pertahun) setelah Pakistan (1,5 - 1,6 juta orang per tahun). Dari sisi ekonomi, Jemaah Indonesia dikenal lebih royal dibandingkan dengan Jemaah dari negara-negara lain.

"Hotel-hotel bintang lima dan empat di sekitar Masjidil Haram irtu biasa didominasi oleh Jemaah asal Indonesia," kata Firman.

Konsul Jenderal RI di Jeddah Eko Hartono memberikan kesaksian senada. Dia mencontohkan saat ini ada sebuah hotel bintang lima yang memiliki 1.700 kamar dan dilengkapi 26 lift sengaja ditutup demi menunggu Jemaah Indonesia. Para pengusaha perhotelan maupun jasa lainnya terkait prosesi ibadah ini, kata Eko, dipastikan tak tinggal diam. Mereka melakukan lobi-lobi juga ke pemerintah dan para pengambil kebijakan.

"Bagi Saudi, RI adalah ceruk pasar yang sangat besar. Jadi sangat berkepentingan untuk mengundang Jemaah dari RI," tegas Eko Hartono.

Di sisi lain, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tak hanya memikirkan kepentingan ekonomi dan bisnis. Kesehatan dan keselamatan warga Arab Saudi secara keseluruhan saat ini menjadi prioritas utama. Perlindungan dengan menggunakan empat jenis vaksin; Pfizer, AstraZaneca, Moderna, dan Johnson & Johnson dianggap terbaik.

Dua jenis vaksin buata China yang banyak digunakan oleh negara-negara muslim seperti Indonesia, yakni Sinovac dan Sinopharm masih belum diakui Saudi. Karena itu terhadap para calon Jemaah ini disyaratkan melakukan vaksinasi dengan vaksin seperti yang digunakan Saudi sebagai booster.

"Tapi karena masih ada jutaan warga lain di tanah air yang belum mendapatkan vaksinasi, tentu akan lebih baik para calon Jemaah bersabar lagi untuk tidak memaksakan diri beribadah umrah dalam waktu dekat ini," kata Eko Hartono.

Selain Indonesia, dia melanjutkan, ada delapan negara lain seperti India, Turki, dan Mesir yang belum diberi akses untuk mengirimkan calon jemaahnya.

Kenapa Malaysia yang sejak beberapa waktu lalu kasus Covidnya meningkat dan memberlakkan lockdown tetap diizinkan? Apakah karena Indonesia dan negara lain itu kalah dalam melobi pemerintah Arab Saudi? Saksikan jawaban selengkapnya di Blak-blakan, "RI Kalah Lobi dari Malaysia?"

(jat/jat)