Sejarah Pinisi yang Kerap Jadi Ancaman Kapal Asing

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 12:33 WIB
Kapal Pinisi Sea Safari
Foto: Kapal pinisi. (Putu Intan/detikcom)
Makassar -

Kapal layar khas Sulawesi Selatan (Sulsel), dikenal oleh banyak orang dengan sebutan Pinisi. Saking besarnya, Pinisi di era penjelajahan dunia masa lalu dianggap sebagai sebuah 'ancaman' oleh kapal asing.

Antropolog Maritim asal Jerman yang saat ini telah berdomisili di Indonesia selama puluhan tahun, Herr Horst Liebner bercerita bahwa informasi soal Pinisi muncul dalam tulisan media asing pada tahun 1917 lewat sebuah artikel di Koloniale Studien. Liebner menyebut kata Pinisi dalam arti sebenarnya lebih condong pada layar bukan sebuah nama kapal.

"Pada pertengahan abad-19, koran-koran dan daftar registrasi kendaraan laut Hindia Belanda mulai mencatat perahu baru yang disebut 'Penisch', 'Pinas', dan tidak berhubungan dengan kata Pinisi," kata Liebner saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/8/2021).

Berdasarkan kajiannya, pada pertengahan abad-19 belum ada istilah Pinisi di Sulawesi. Pada tahun 1960-an, pada Jilid IV Encyclopaedie Van Nederlandsch-Indie tahun 1906 yang mendeksripsikan kapal yang berbentuk sekunar, dengan satu batang tiang yang besar dan satu yang kecil, yang dikenali di pantai Selatan Celebes, dan juga di Banjarmasin.

"Orang semua berpikir pinisi..pinisi itu namanya perahu, itu sejenis layar, tiang dan layar segala konfigurasinya. Itulah yang dinamakan Pinisi. Untuk badan kapal ada puluhan nama, cara pembuatannya, cara penggunaannya," kata dia meluruskan informasi ini.

Secara pribadi, Liebner mengakui ketertarikannya dengan perahu layar. Kalau kita lihat, tradisi teknologi yang ada di Bulukumba, seperti di Tanah Beru, dia menyebut warisan pembuatan kapal di lokasi itu telah berlangsung selama 400 tahun. Akan tetapi, teknologi yang ada dalam setiap bagian-bagian dalam perahu yang dibangun telah berusia ribuan tahun.

"Sudah berlangsung 2.000 tahun hingga 3.000 tahun, karena dari sekian banyak titik pada detil detil pembuatan itu, mewarisi cara membuat perahu yang diciptakan oleh orang astronesia, dan diteruskan diteruskan (diwariskan)," ungkapnya.

Perahu dalam bentuk besar yag diciptakan, lanjutnya, memang sering membuat kaget para pelaut dari luar negeri. Hal inilah yang membuat kapal-kapal besar pinisi sering menjadi sasaran serangan dari kapal Portugis di wilayah Malaka.

"Dan waktu orang Portugis datang ke sini ke Nusantara, mereka temui kapal yang lebih besar dari kapal mereka. Mereka menyerangnya, kapal Portugis dengan cepat coba menghancurkan karena menjadi pesaing kapal portugis untuk memonopoli perdagangan. Sebagai ancaman," kata dia.

Untuk wilayah Sulsel, informasi soal tempat pembuatan kapal dan asal pelayar diambil dari catatan Cornelis Speelman, pemimpin armada Kompeni India Timur Belanda yang pada tahun 1666-1669 yang menyebut adanya wilayah yang sangat ahli dalam membuat perahu dan juga merupakan kampung asal pelaut ulung Bira. Speelman menyebut wilayah ini kebanyakan masyarakatnya ahli dalam membuat perah dan memiliki sumber daya yang kaya dengan kayu besi dengan ukuran yang sangat besar.

(tfq/nvl)