e-Life

FWB Bikin Trauma dan Sukar Percaya Orang Lain

dtv - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 06:23 WIB
Jakarta -

Tak hanya berisiko pada kesehatan reproduksi, hubungan "Friends with Benefits" atau disingkat FWB ini juga bisa berdampak negatif pada psikis seseorang.

FWB adalah hubungan pertemanan yang disertai keintiman fisik atau lainnya, namun tanpa berkomitmen untuk melanjutkan hubungan romantis ke jenjang pacaran atau menikah. Seringkali FWB dilakukan hanya untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu, seperti adanya kehadiran seseorang yang menemani, keuntungan dalam hal keuangan, hingga adanya partner berhubungan seksual, dan masih banyak lagi. Namun, semua dilakukan tanpa melibatkan perasaan.

Sex and Reproductive Health Content Creator, Janofah Chiny mengatakan risiko terparah dari FWB berada pada psikis seseorang. Pada tingkat yang ekstrem, seseorang bisa memiliki trust issue dari hubungan FWB.

"Menurut aku, risiko yang terparah itu adalah yang kena ke psikis. Karena, seseorang kalau udah jalanin FWB itu ke depannya bakalan merasa dirinya nggak berharga. Mereka ngerasa selama ini bisa 'dipakai' untuk seks, tapi tanpa adanya status dan itu ke depannya kayak jadi nggak percaya diri, jadi nggak percaya sama pasangan yang akan datang," terang Janofah.

Seringkali orang melakukan hubungan FWB untuk melipur lara pasca putus cinta. Belum siap berkomitmen, namun terdapat kebutuhan emosional maupun batin yang harus dipenuhi sepeninggal mantan kekasih, menjalin hubungan FWB kemudian jadi opsi. Namun, hal ini tidak disarankan oleh Janofah, mengingat emosi seseorang pasca putus cinta itu belum stabil.

"Jadi memang benar-benar harus dipikirkan dari awal, apakah tujuan kamu untuk FWB ini untuk sekadar have fun, apakah ataukah cuma buat kayak mengisi kekosongan yang sebelumnya gara-gara kamu baru aja putus cinta. Nah, biasanya kan kalau orang yang baru putus cinta itu pemulihannya belum benar-benar terjadi. Jadi ketika dia menjalani hubungan dengan orang lain, bisa aja dia merasa nyaman, nanti jadi punya perasaan yang nggak sesuai dengan nilai yang dari awal dia sepakati dengan pasangan FWB-nya," jelas Janofah.

Oleh karena itu, Janofah tidak menyarankan hubungan FWB untuk mendistraksi pikiran lepas putus cinta. Seharusnya, seseorang fokus memulihkan dirinya sendiri terlebih dahulu, baru memulai membuat keputusan baru.

"Harusnya benar-benar udah pulih dulu baru kamu ngambil keputusan. Karena orang yang baru putus gitu kan pikirannya masih ke mana-mana, jatuhnya kayak lebih ke mementingkan diri sendiri, lebih egois, yang akhirnya nanti ngambil keputusan yang salah. Sembuhin diri sendiri dulu, atau mungkin dengan melakukan hobi. Dibandingkan langsung kayak baru habis putus hari ini, langsung buka dating app atau langsung cari FWB," kata Janofah.

Selain itu, terkadang salah satu motivasi seseorang untuk menjalani FWB adalah karena ia tidak mampu mengomunikasikan kebutuhannya pada pasangan (pacar/suami/istri) saat ini. Sehingga, ia lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut lewat orang lain, dalam hal ini adalah dengan menjalin FWB.

"Kalau menurut aku sih daripada ngambil langkah ke FWB, alangkah lebih baik dikomunikasikan saja ke pasangan. Kadang kita tuh mikir terlalu jauh, 'Oh pasangan aku nggak bisa nih terima aku pengin kayak gini,' nyatanya ketika kita coba beranikan diri untuk komunikasikan dengan pasangan, pasangan jadi kayak, 'Oh selama ini kamu butuh yang seperti ini? Oke aku bisa penuhi apa yang kamu pengen dari aku.' Jadi, kuncinya memang komunikasi aja daripada ngambil FWB," kata Janofah.

Saat menjalani hubungan FWB, kedua pihak bisa sama-sama mendapat kerugian. Seseorang bisa saja terus membawa luka dan trauma FWB bahkan lama setelah ia menjalani hubungan serius dengan pasangannya kelak.

"Sebenarnya keduanya bisa sama-sama rugi. Tapi kalau dari segi perempuan itu, misalnya nanti dia menikah ataupun punya pasangan yang serius, itu bisa aja tiba-tiba punya perasaan dari alam bawah sadarnya kalau 'Oh aku pernah nih melewati hal-hal seperti ini dengan FWB-an aku,' yang akhirnya jadi kayak punya trauma. Bisa aja contohnya pas dia udah status istri orang, pas mau melakukan hubungan seks dengan pasangannya bisa aja dia kayak terpikir lagi, 'Wah dulu sama FWB-an aku gini nih. Ini berarti suami aku nih nggak serius ya sama aku, oh suami aku ini nggak cinta ya sama aku, atau jangan-jangan suami aku punya cewek lain di luar sana?' gitu," papar Janofah.

(gah/gah)