Pejabat PLN Kaget 3 Korban SUTET Ikutan Diskusi di Komnas

Pejabat PLN Kaget 3 Korban SUTET Ikutan Diskusi di Komnas

- detikNews
Rabu, 29 Mar 2006 11:29 WIB
Jakarta - Kaget. Itulah reaksi pejabat PLN kala 3 korban jahit mulut dan mogok makan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dibopong masuk ke dalam ruang diskusi di kantor Komnas HAM. Aktivis Selamatkan Rakyat Indonesia (SRI) ini mengikuti diskusi bertema SUTET sambil tiduran.Acara Focus Grup Discussion bertema Dampak SUTET Bagi Kesehatan Manusia Ditinjau dari HAM digelar di lantai III, Gedung Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Rabu (29/3/2006) pukul 10.20 WIB.Diskusi ini dihadiri Deputi Direktur Pembinaan Transmisi PLN Djoko Hastowo, Direktur Transmisi dan Distribusi PLN Herman Daniel, beberapa staf Departemen Kesehatan (Depkes) serta Komisioner untuk hak atas kesehatan dan lingkungan hidup Komnas HAM Ansari Thayib.Baru 10 menit, Ansari Thayib membuka diskusi tiba-tiba 20 orang aktivis Selamatkan Rakyat Indonesia (SRI) yang dikomandani Mustar Bona Ventura menyeruduk masuk ke dalam ruangan.Beberapa aktivis tampak membopong 3 aktivis jahit mulut dan mogok makan yakni Sarjono dan Rasjad dari Brebes serta Masoem dari Cirebon yang sudah menjahit mulutnya selama 13 hari.Aktivis dengan tertib menduduki bangku yang mengitari meja diskusi. Sedangkan aktivis jahit mulut dan mogok makan yang kondisinya kian melemah ditidurkan di atas sofa di belakang ruangan diskusi. "Kami diundang Komnas HAM," kata Mustar kepada detikcom sambil menujukkan selebaran undangan.Sontak saja pemandangan ini mengejutkan jajaran pejabat PLN, dan Depkes. "Loh ini saya pikir diskusi untuk undangan terbatas," protes Djoko.Menanggapi protes itu, Ansari menjelaskan bahwa Komnas HAM terbuka bagi siapa saja yang ingin mengikuti diskusi.Djoko pun hanya terdiam dan melanjutkan untuk mengikuti jalannya diskusi.Hingga pukul 11.10 WIB diskusi masih berlangsung dan Direktur Transmisi dan Distribusi PLN Herman Darnel Ibrahim tengah memberikan presentasi tentang SUTET. (aan/)


Berita Terkait