Sosok

Keluar dari Zona Nyaman, Eks Manajer Bank Buka Usaha Dimsum

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 08 Agu 2021 21:13 WIB
Jakarta -

Tidak banyak orang berani ambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman. Terlebih jika di tempat kerjanya sudah menduduki jabatan level atas.

Ialah Teguh (36), mantan manajer bank ini nekat keluar dari zona nyamannya demi menjadi wirausahawan. Jiwa usaha di diri Teguh sudah terlihat ketika masih kuliah.

Pria lulusan S1 Ekonomi Universitas Padjajaran dan lulusan S2 MBA ITB ini melakukan bisnis jual beli handphone dan menyewakan sepeda motor untuk para mahasiswa pertukaran pelajar dari Belanda. "Saya dulu Branch Manager di salah satu bank. Karir saya pada saat itu bagus. Saya sering mendapatkan penghargaan yang tidak semua karyawan bisa dapat seperti itu. Dapat penghargaan Best Achiever," ujar pria berkacamata ini.

Sudah terlalu nyaman, menjadi alasan Teguh untuk resign. Namun ternyata ada alasan lain mengapa Teguh memutuskan untuk tidak meneruskan lagi menjadi manajer bank.

"Kemudian saya mulai cari-cari tahu tentang bank, segala macam. Tentang riba. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi buat bergabung dengan pekerjaan yang lama," cerita pria yang tinggal di Depok ini dalam Program Sosok di detikcom.

Awal resign tentu ada penolakan dari kedua orang tua dan juga mertuanya. Orang tua yang berprofesi sebagai PNS, mertua yang berprofesi sebagai karyawan BUMN, amat sangat melarang Teguh untuk keluar dari pekerjaan yang sudah membesarkan namanya ini.

Tetapi, Teguh justru ingin membuka usaha bersama sang istri, Septin Aldila (35). Awalnya mereka membuka usaha minuman thai tea. Kemudian baru berjualan dimsum yang diberi nama Pabrik Dimsum.

"Dulu waktu awal-awal resign, saya masih bingung tuh mau usaha apa. Kemudian saya buka thai tea. Waktu itu jualan awalnya di bazaar, setiap hari Jumat kita jualan. Dan kemudian dari bazaar-bazaar itu kita lihat, apa sih yang buat pasangannya thai tea ini. Akhirnya kita memutuskan untuk jualan dimsum," ujarnya.

Di awal usaha, Teguh menjalani bisnis hanya berdua dengan istrinya. Mulai dari mencari racikan dimsum yang enak sampai dengan urusan keuangan dan marketing.

Kini Teguh sudah mempunyai 20 karyawan yang bekerja dalam 2 shift selama 24 jam demi memenuhi permintaan dari pelanggannya. Dalam sehari, Teguh bisa mencetak 15 ribu sampai 20 ribu dimsum siap antar.

Tidak hanya itu, bisnis dimsum Teguh kini sudah mempunyai 17 distributor yang tersebar di seluruh Indonesia. Paling jauh berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

"Kalau omzetnya sih sekarang sebulan mungkin sudah bisa beli rumah sederhana lah di Depok," ujarnya sembari tertawa.

Tentu hal ini membuat bungkam orang-orang yang sebelumnya memandang sebelah mata usaha Teguh. Teguh tidak menyerah walupun banyak yang meragukan keputusannya resign sebagai manajer bank.

"Jadi kalau saya sih mungkin orang melihatnya tidak maju, tapi saya ngerasa bahwa ini bisa didorong terus. Ini bisa dipush terus. Bisa kita maksimalin. Dan bahkan sampai sekarang pun tetap seperti itu," ujar Teguh.

Teguh berharap usahanya bisa membantu orang-orang yang terdampak pandemi. Bisa menyerap tenaga kerja yang jumlahnya bertambah karena banyak usaha yang gulung tikar.

"Kita harus bisa bantu orang, bantu orang lebih banyak, dan bisa buka lapangan pekerjaan lebih banyak. Jadi dengan usaha ini, ini hanya sebagai alat buat kita biar bisa berbagi dengan orang lain." ujar Teguh.

(gah/gah)