Walhi Tolak Proyek 'Bakar-bakaran Sampah', DLH DKI Pastikan Ikuti Aturan

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 20:14 WIB
Proses revitalisasi Taman Tebet terus dilakukan. Taman itu diketahui direvitalisasi menjadi Eco Garden. Sudah sejauh mana progres revitalisasinya?
Revitalisasi Taman Tebet (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta tak mempermasalahkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menolak rencana pembangunan Fasilitas Pengelolaan Sampah Antara (FPSA) di Taman Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel). DLH Jakarta memastikan proyek itu sudah memiliki dasar dan aturan yang kuat.

"Kalau sebagai saran, sebagai masukan, tentunya boleh-boleh saja. Saya pikir semua punya hak, apalagi Walhi. Pemprov DKI juga akan memberikan penjelasan, lalu pihak yang melaksanakan pembangunan itu, yang mengimplementasikan teknologinya kan dia juga akan menjelaskan," kata Plt Kadis LH Jakarta Syaripudin saat dihubungi, Sabtu (7/8/2021).

"Ya, jelaslah (FPSA) nggak mungkin orang bikin kerja gitu yang nggak punya dasar yang kuat. Sudah pasti itu dia sudah melakukan sosialisasi, konsultasi publik kepada masyarakat bahwa kami akan melakukan kegiatan ini dengan tujuan seperti ini, tentunya akan ditempuh sesuai aturan di negara ini dan itu sudah pasti," sambungnya.

Syaripudin juga memastikan semua proses akan dilalui secara prosedural. Dia mengatakan Pemprov DKI akan terbuka menerima saran serta hal-hal yang dikhawatirkan Walhi terkait rencana pembangunan FPSA.

"Semua itu pasti dilakukan sesuai memenuhi ketentuan peraturan perundangan dan semua pasti dilalui secara prosedural. Jadi perihal yang menjadi kekhawatiran, perihal yang menjadi saran tentunya Pemprov DKI akan terbuka untuk memberi saran masukan dan sebagainya. Nanti kan ada pihak yang akan melaksanakan kegiatan tersebut," ujarnya.

Syaripudin kemudian membandingkan FPSA di Taman Tebet dengan tempat pembakaran sampah di Bantargebang yang sama-sama melibatkan pembakaran bahan organik. Bahkan, menurutnya, tempat pembakaran itu sudah berjalan kurang lebih selama tiga tahun.

"Kita punya Bantargebang insinerator 100 ton yang bangun BPPT yang bangun Menristek, sudah jadi tiba-tiba udah setahun beroperasi bahkan udah 3 tahun sama teknologinya," imbuhnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.