ADVERTISEMENT

KPAI Minta Pemerintah Jamin Hak Banyak Anak Kehilangan Ortu Gegara Corona

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 15:31 WIB
Vino di rumahnya, di Kutai Timur Kalimantan Barat. (Suriyatman/detikcom)
Vino menjadi yatim piatu setelah bapak-ibunya meninggal akibat terpapar Corona (Suriyatman/detikcom)
Jakarta -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti banyaknya anak yang kehilangan orang tua (ortu) di masa pandemi COVID-19. KPAI meminta pemerintah memastikan keberlangsungan hidup para anak.

"Pertama, pemerintah dan pemerintah daerah memastikan setiap anak terlindungi hak-haknya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang ada. Sehingga negara bisa hadir untuk melakukan berbagai kebijakan atau program untuk anak yang ditinggalkan orang tuanya, baik jangka pendek maupun jangka panjang," ujar komisioner KPAI Jasra Putra kepada wartawan, Sabtu (7/8/2021).

Kemudian, Jasra menjelaskan pendataan kepada anak harus dilakukan secara benar. Dengan demikian, pendampingan atau pemberian bantuan kepada anak bisa terlihat secara jelas dan terkontrol.

"Kedua, langkah pendataan dan asesmen kepada anak dan keluarga menjadi salah satu kunci intervensi dalam menghadirkan hak anak tersebut. Maka setiap anak akan terlihat dukungan-dukungan jangka pendek dan jangka panjang yang harus dilakukan, baik dukungan pendampingan psikis, penguatan pengasuhan keluarga, maupun dukungan ekonomi anak dan keluarga," tuturnya.

Jika anak itu tidak memiliki keluarga yang bisa mengasuh, kata Jasra, anak yang kehilangan orang tuanya harus ditempatkan di panti asuhan. Jasra meminta semua pihak membantu anak yang sedang melewati masa sulit dan terguncang supaya mereka tetap bisa tumbuh dengan baik.

Komisioner KPAI Jasra Putra mendatangi Mapolsek Pasar Rebo.Komisioner KPAI Jasra Putra (dok detikcom)

"Jika keluarga tidak ada lagi yang bisa mengasuh berdasarkan asesmen yang dilakukan oleh petugas lapangan, referral system selanjutnya dan merupakan pilihan terakhir adalah anak bisa ditempatkan di lembaga pengasuhan seperti lembaga kesejahteraan sosial anak atau panti sosial asuhan anak yang dimiliki oleh pemerintah dan masyarakat yang ada izinnya," terang Jasra.

"Ketiga, masyarakat, organisasi masyarakat, dan dunia usaha juga bisa membantu dan menguatkan anak tetap berada dalam keluarga, sehingga situasi sulit dan guncangan yang dihadapi oleh anak ini bisa dilewati dengan baik. Tentu setiap anak sesuai usia dan pemahamannya akan berbeda dalam merespons situasi sulit yang dihadapi anak. Namun semakin banyak dukungan yang diberikan dan termasuk perhatian oleh keluarga dan masyarakat, maka diharapkan anak bisa tumbuh dan berkembang secara baik," sambungnya.

Jasra menjelaskan pendataan yang baik memudahkan respons kebijakan atau program perlindungan anak sesuai dengan kebutuhannya, di samping merespons dengan cepat perlindungan anak yang tetap berjalan oleh semua pihak. Dirinya berharap pandemi COVID-19 bisa segera berakhir agar seluruh anak beserta orang tua dapat terlindungi.

"Selanjutnya pencegahan harus masif dilakukan agar keterpaparan COVID-19 klaster keluarga ini bisa dikendalikan. Sehingga potensi kematian orang tua yang masih tinggi bisa ditekan," katanya.

"Kita sedang berkejaran dengan virus dalam menyelamatkan anak dan keluarga, berharap kebijakan pemerintah yang sedang berjalan ini mampu menekan angka kematian dengan upaya-upaya pencegahan, penanganan, dan penyembuhan. Termasuk juga mempercepat vaksinasi bagi anak, keluarga, dan ibu hamil di seluruh Indonesia. Jadi semua kemampuan dan potensi negara ini harus mampu menyelamatkan anak dan orang tua," tutup Jasra.

Sebelumnya, seorang ibu bernama Iswari di Depok, Jawa Barat, yang terpapar COVID-19, meninggal dunia setelah melahirkan. Sang bayi dilahirkan secara caesar.

Kakak almarhumah, Indra Saputra, menyebutkan awalnya Iswari sempat ditolak oleh beberapa rumah sakit karena penuh. Iswari pun baru mendapat perawatan setelah ditolak empat rumah sakit.

"Dibawa ke Rumah Sakit Arafiq. Karena penuh, dibawa ke rumah sakit Brimob. Terus karena penuh juga, dibawa ke rumah sakit ibu dan anak. Karena penuh, dibawa ke Rumah Sakit UI. Baru di dalam kampusnya, karena penuh, baru kita dapat di RSUD Pasar Minggu," kata Indra dalam video yang dibagikan oleh komisioner KPAI Jasra Putra kepada detikcom, Jumat (6/8).

Kemudian, ada juga Alviano Dava Raharjo atau Vino, bocah berumur 10 tahun yang menjadi yatim-piatu setelah ayah ibunya meninggal dunia akibat positif virus Corona atau COVID-19. Vino dijemput untuk pulang ke kampung halamannya di Sragen, Jawa Tengah.

(jbr/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT