Video 20Detik

Cerita Kapolda Sumsel soal Awal Mula Kena 'Prank' Rp 2 T Akidi Tio

dtv - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 14:57 WIB
Jakarta -

Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri meminta maaf langsung kepada masyarakat, menyusul polemik donasi bodong Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio. Permohonan maaf Eko juga ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam penanganan Covid-19 khususnya di Sumatera Selatan.

"Saya sebagai Kapolda Sumsel memohon maaf kepada masyarakat Indonesia terutama masyarakat Sumsel atas kegaduhan yang terjadi ini," ujar Irjen Pol Eko Indra Heri, Kamis (5/8/2021).

Di depan wartawan, Kapolda mengakui kegaduhan yang terjadi sebagai akibat ketidakhati-hatiannya dalam menanggapi informasi yang seharusnya mencari tahu terlebih dahulu.

"Wabil khusus kepada Forkopimda, Bapak Gubernur, Pangdam II Sriwijaya, Danrem dan institusi yang lain, yang tentunya terlibat dalam minggu-minggu ini. Kegaduhan ini sebagai kelemahan saya sebagai individu dan sebagai manusia biasa, untuk itu saya meminta maaf," ucapnya di Gedung Promoter Mapolda Sumsel.

Selain mengutarakan permohonan maafnya, Kapolda Sumsel juga menjelaskan awal mula dirinya dihubungi soal donasi itu. Ia mengaku mendapat informasi pertama dari Kadinkes Sumsel, Lesty Nurainy.

"Ibu Kandinkes menghubungi saya, katanya akan ada sumbangan dari keluarga Akidi Tio yang disampaikan Profesor Hardi," katanya.

Eko mengaku sempat mempertanyakan bentuk sumbangan akan diberikan. Dalam diskusi bersama Prof Hardi dan Kadinkes Sumsel, Heryanty anak Akidi Tio menjelaskan bahwa uang tersebut berbentuk cek.

"Saya memang kenal dengan keluarga Akidi, khususnya Alm pak Akidi dan anak pertamanya Ahok ketika saya bertugas di Aceh Timur," katanya.

Dari hasil diskusi itu dibentuklah tim mencari kebenaran dana tersebut. Namun, hingga kini Kapolda menegaskan dana itu belum ada.
Berkaitan dengan polemik bantuan bodong itu, Mabes Polri merencanakan pemeriksaan kepada Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Eko Indra Heri. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan, Polri menyiapkan tim internal untuk proses pemeriksaan. Tim itu terdiri dari beberapa divisi.

(dtv/dtv)