Round-Up

Data dan Fakta Angka Kematian Corona RI Melonjak Pada Usia Muda

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 06:23 WIB
Poster
Ilustrasi pemakaman protap Corona (Edi Wahyono)

Selanjutnya, Dewi memaparkan data kabupaten/kota yang menjadi penyumbang angka kematian tertinggi di bulan Juli. Dari beberapa kabupaten/kota tersebut, ada yang konsisten masuk 20 besar penyumbang angka kematian tertinggi bulanan. Adapun keenam kabupaten/kota tersebut adalah Jakarta Selatan, Sleman, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Wonogiri.

"Ternyata ada beberapa kabupaten/kota yang konsisten masuk 20 besar, yaitu Jakarta selatan, Sleman, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Wonogiri," ujarnya.

Selanjutnya, 6 kabupaten/kota ini akan menjadi sasaran intervensi. Sasaran intervensi dilakukan untuk mencari tahu mengapa kasus kematian akibat Corona tinggi di wilayah tersebut.

"Artinya, apa kita harus lebih melihat kabupaten/kota tersebut untuk dijadikan sasaran intervensi," lanjutnya.

Penyebab Angka Kematian Tinggi

Cakupan vaksinasi dan isolasi mandiri yang tak terkontrol, kata Satgas, menjadi faktor angka kematian itu tinggi.

"Jadi di luar negeri itu kenapa mungkin sama-sama jumlah kasus meningkat, kenapa angka kematian di Indonesia lebih tinggi? Beberapa faktor di antaranya tadi sudah disampaikan, isolasi mandiri perlu dipantau, tidak bisa hanya isolasi mandiri sendiri saja," ujarnya.

Dalam melakukan isolasi mandiri ini, Dewi menekankan bahwa masyarakat harus diedukasi. Jadi mereka akan memahami kapan waktu untuk menjalani pemeriksaan ke rumah sakit.

"Masyarakat lebih banyak diedukasi, media juga berperan dalam mengedukasi masyarakat biar paham kapan harus ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan," jelasnya.

Faktor kedua yang menjadi penyebab angka kematian akibat Corona di RI, kata Dewi, adalah cakupan vaksinasi. Dia menyebut vaksinasi di negara lain sangat tinggi, berbeda dengan Indonesia yang saat ini masih digencarkan.

"Yang kedua adalah cakupan vaksinasi. Di beberapa negara cakupan vaksinasinya sudah sangat tinggi sekali yang mengakibatkan ketika mereka terinfeksi COVID-19 cenderung memiliki gejala yang ringan bahkan tidak bergejala sama sekali. Nah di kita, kita masih mengejar vaksinasi tadi, harapannya adalah ketika terjadi infeksi, karena memang sampai saat ini tidak ada vaksin yang mencegah 100 persen orang tidak akan terinfeksi COVID-19, itu nggak ada vaksin manapun tidak ada. Jadi saat ini yang harus dilakukan adalah tetap protokol 3M," kata dia.


(rdp/rdp)