Gugatan Dikabulkan PN Jaksel, Eks Guru JIS dkk Harus Bayar Ganti Rugi Rp 1 M

Tim Detikcom - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 20:31 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi Hukum (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) mengabulkan sebagian gugatan yang diajukan keluarga korban kasus pencabulan mantan guru Jakarta International School (JIS). Para tergugat, yakni Neil Bantleman dkk, diminta mengganti rugi korban Rp 1,044 miliar.

"Dikabulkan sebagian, kemudian menyatakan bahwa tergugat melakukan perbuatan melawan hukum, membayar ganti rugi, angka pastinya lupa tapi sekitar Rp 1 miliar," kata humas PN Jaksel, Haruno, saat dihubungi, Rabu (3/8/2021).

Dalam kasus ini bertindak sebagai penggugat adalah Theresia Pipit Widowati yang merupakan ibu korban. Theresia melalui kuasa hukumnya mengajukan gugatan terhadap 9 orang yang diantaranya pernah dihukum terkait kasus pencabulan mantan guru JIS.

Para tergugat adalah Neil Bantleman, Ferdinant Michel alias Ferdinant Tjiong, Afrischa Styani, Syahrial, Virgiawan Amin, Agun Iskandar, Zainal Abidin, Yayasan Jakarta International School, dan PT ISS INDONESIA.

Merespons putusan itu, pengacara penggugat, Fawaz Basyarahiel, mengaku akan mengajukan permohonan banding karena gugatan ganti rugi yang dikabulkan tidak sesuai yang diharapkan. Ia kecewa atas putusan hakim karena gugatan ganti rugi yang diajukan Rp 374 miliar, tetapi hanya dikabulkan oleh hakim Rp 1.044.274.063.

"Kalau menurut saya sebetulnya kita akan banding karena terkait masalah nilai kerugian yang diberikan. Karena kerugian kita jauh sekali," ungkap Fawaz.

Ia mengatakan ganti kerugian yang diajukan juga menghitung hingga anak tersebut berusia pensiun, sedangkan hakim hanya mengabulkan apa yang bisa dibuktikan di persidangan.

"Karena basic hakim mengabulkan apa yang bisa dibuktikan. Kita minta ganti kerugian itu untuk ke depannya juga, bukan hanya kemarin saja. Kita kan tidak tahu nasib anak ini sembuh sampai kapan kan. Nah itu kita akumulasi. Namun, menurut pertimbangan majelis hakim itu tidak dikabulkan karena kita tidak bisa buktikan. Kita kecewa terhadap nominal, bukan berarti kita mengejar target nominal. Tapi untuk ganti kerugian terhadap anak dicabuli tidak ternilai sebetulnya," ujarnya.

Gugatan tersebut terdaftar nomor perkara678/Pdt.G/2019/PN JKT.SEL. Berdasarkan SIPP PN Jaksel, penggugat awalnya mengajukan gugatan ganti kerugian sebesar Rp 374.050.000.000 untuk biaya pengobatan dan perawatan anak korban.

"Biaya pengobatan, perawatan, dan biaya-biaya pengurusan anak penggugat yang sudah dikeluarkan oleh penggugat baik di rumah sakit dan perawatan oleh Psikolog untuk penyakit yang diderita oleh anak penggugat serta biaya pengobatan dan biaya-biaya lainnya yang akan dikeluarkan oleh penggugat nantinya hingga anak penggugat memasuki usia pensiun sebesar USD 25,000,000.00 atau ekuivalen dengan Rp 374.050.000.000, dengan menggunakan kurs tengah BI pada saat gugatan diajukan," demikian dikutip dari petitumnya.

Sementara biaya kerugian imateri penggugat yang timbul secara langsung akibat dari permasalahan ini adalah sebagai berikut: hilangnya kesempatan anak penggugat dalam menikmati dan memanfaatkan masa kecilnya dengan bahagia, penderitaan secara mental dan psikis anak penggugat dan trauma yang berat sehingga anak penggugat tidak dapat merasakan kenyamanan dalam bersekolah layaknya anak-anak normal seusianya dan setiap hari hidup dalam ketakutan.

Serta habisnya waktu, tenaga, dan pikiran yang telah penggugat keluarkan untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan fisik dan mental dari anak penghujat serta permasalahan hukum yang ditimbulkan oleh para tergugat. Tersiksanya batin penggugat atas adanya permasalahan ini yang timbul dari adanya pemberitaan-pemberitaan pada berbagai media yang pada pokoknya mendiskreditkan penggugat.

Rasa kekecewaan yang besar yang dialami oleh penggugat terhadap perilaku dari Para Tergugat. Ketidakpastian waktu kesembuhan Psikis anak penggugat, agar kembali layaknya anak-anak normal dan trauma yang terkadang datang secara tiba-tiba.

"Di mana kerugian tersebut sangat patut jika diperkirakan sebesar USD 100,000,000.00 yang equivalen sebesar Rp 1.496.200.000.000, dengan menggunakan kurs tengah BI pada saat gugatan diajukan," tulis petitum itu.

Adapun pembayaran kerugian materi dan imateri tersebut disesuaikan dengan proporsi dan/atau kemampuan finansial dari para tergugat, mengingat tergugat III s/d tergugat VII yang notabene hanya sekedar Petugas Kebersihan (cleaning service) maka tentunya perusahaan tempat mereka bekerjalah yang harus bertanggung jawab atau lebih besar proporsi tanggungjawabnya untuk membayar kerugian-kerugian tersebut.

Sebelumnya, pada April 2015, PN Jaksel menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Neil Bantleman. Vonis itu dianulir oleh Pengadilan Tinggi Jakarta pada Agustus 2015. Baru menghirup udara bebas beberapa bulan, Neil kembali harus menghuni penjara. Sebab, pada Februari 2016, MA memutuskan Neil bersalah dan menghukum Neil untuk menghuni penjara 11 tahun lamanya.

Kemudian Neil Bantleman bebas setelah mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo. Grasi itu diberikan lewat Kepres No 13/G Tahun 2019 yang diteken 19 Juni 2019.

Berdasarkan UU No 22 Tahun 2002 tentang Grasi, grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Kendati begitu, pemberian grasi tak berarti menghilangkan kesalahan dan juga bukan merupakan rehabilitasi terhadap terpidana.

"Sudah bebas dari Lapas Klas I Cipinang tanggal 21 Juni 2019," kata Kabag Humas Ditjen PAS, Ade Kusmanto, Jumat (11/7/2019).

Setelah bebas dari penjara, Neil lalu pulang ke negara asalnya, Kanada.

"Adik saya sudah kembali ke Kanada," kata kakak Neil Bantleman, Guy, dalam keterangan tertulis seperti dilansir Reuters, Jumat (12/7/2019).

Dalam keterangan yang sama, Neil Bantleman menegaskan bahwa dia tidak bersalah.

"Lima tahun lalu, saya dituduh dengan tidak benar dan dihukum atas kejahatan yang tidak saya lakukan dan tidak pernah terjadi," kata Neil.

Simak juga 'Pentingnya Pendidikan Seksual Sejak Dini untuk Cegah Pelecehan':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/dhn)