Kontras: Belum Ada Bukti Pembunuhan 16 Mahasiswa Papua

Kontras: Belum Ada Bukti Pembunuhan 16 Mahasiswa Papua

- detikNews
Selasa, 28 Mar 2006 13:49 WIB
Jakarta - Isu pembunuhan terhadap 16 mahasiswa Papua pasca-insiden yang menewaskan 4 aparat sulit dibuktikan kebenarannya. Kontras hingga kini tidak menemukan bukti dan fakta adanya pembunuhan tersebut."Sampai hari ini belum ada fakta dan bukti-bukti informasi itu benar. Kontras di Papua masih terus melakukan penyelidikan," kata Koordinator Kontras Usman Hamid dalam jumpa pers Kelompok Kerja Masyarakat Jakarta (Pokja) Peduli Papua di kantor Kontras, Jalan Borobudur, Jakarta, Selasa (28/3/2006).Isu pembunuhan 16 warga Papua dilansir The Weekend Australia pada Sabtu 25 Maret. Senator Natasha Stott Despoja dari Partai Demokrat Australia yang menjadi sumber berita itu mengaku mendapat laporan pembunuhan itu dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Papua.Pokja Peduli Papua dalam jumpa pers itu meminta pemerintah segera meninggalkan cara-cara reaktif dalam menanggapi isu-isu seputar Papua. Cara-cara reaktif tidak akan menyelesaikan inti permasalahan di Papua secara bijak dan menyeluruh.Menurut Usman, saat ini ada tiga persoalan di Papua, yakni masalah PT Freeport, insiden Abepura, dan pemberian visa kepada 42 warga Papua pencari suaka oleh Australia."Kelambanan pemerintah pusat dalam menyikapi perkembangan ketiga isu itu telah menimbulkan berbagai macam opini di kalangan masyarakat Papua," kata Usman yang didampingi anggota Pokja Peduli Papua Patra M Zen dan Frans Maniagasi.Usman menguraikan, isu PT Freeport telah menimbulkan ketidakpastian. Isu kekerasan telah menciptakan atmosfer ketakutan. Sedangkan isu pemberian visa telah menjadi komoditas politik jalanan yang mengatasnamakan nasionalisme untuk memojokkan Papua.Usman mengimbau agar isu-isu ini dikelola dengan baik dan tidak menjadi bumerang bagi kehidupan sosial politik dan HAM di Papua. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga diminta mengacu dan konsisten dengan UU Otonomi Khusus.Mengenai suaka, pemerintah harus segera melakukan lobi yang intensif dengan Australia dengan cara memaparkan fakta-fakta mengenai perkembangan kondisi terakhir di Papua saat ini. (iy/)


Berita Terkait