Tingkatkan 3T, Masyarakat Perlu Ubah Stigma agar Tak Takut Ditracing

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 08:30 WIB
Pemerintah terus berupaya dalam meningkatkan testing dan tracing di permukiman padat penduduk guna memutus mata rantai penyebaran Corona.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 mengungkap upaya tracing perlu ditingkatkan sebagai bagian dari pengendalian COVID-19. Kendati demikian, upaya ini masih menemui berbagai tantangan seperti sumber daya manusia yang kurang hingga stigma negatif masyarakat akan tracing.

Dalam diskusi virtual yang dilaksanakan Rabu (4/8), Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19, Dr. Dewi Nur Aisyah mengatakan besarnya jumlah penduduk di Indonesia menjadi salah satu tantangan besar dalam melaksanakan tracing secara maksimal. Terlebih, hingga saat ini jumlah tenaga kesehatan yang dibutuhkan untuk menjadi tracer masih sangat terbatas.

"Oleh sebab itu, sesuai arahan Presiden kemarin kita sudah mengerahkan personel TNI, Polri, bahkan mahasiswa untuk membantu pelaksanaan menjadi tracer termasuk pemantauan isolasi mandiri. Jadi intinya kolaborasi dengan semua pihak itu kunci karena tidak bisa hanya satu kementerian saja yang memegang," ungkap Dewi dalam diskusi bertemakan 'COVID-19 dalam Angka: Optimalisasi Peran Posko PPKM' yang disiarkan secara virtual, dikutip Kamis (5/8/2021).

Menurutnya, belajar dari kondisi pandemi ini seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah harus saling bahu membahu dalam melaksanakan upaya 3T (testing, tracing, treatment), utamanya tracing.

"Tapi dengan penambahan dan penebalan personel dari TNI Polri kita mulai melihat adanya penambahan kontak yang terjadi saat ini dan ini terus dievaluasi setiap hari, bagaimana jumlah tracer bertambah, jumlah orang dipantau bertambah," paparnya.

Meski ada penambahan personel, Dewi mengatakan masih sering ditemukan kesulitan di lapangan karena masyarakat tidak mau di-tracing.

"Stigma di masyarakat sama-sama masih perlu kita benahi. Peran media juga sangat besar untuk bagaimana kita bisa bersama-sama mengajak masyarakat meng-highlight pentingnya tracing," ujarnya.

Dewi menekankan, dengan melakukan tracing masyarakat juga mampu mencegah adanya penularan yang jauh lebih luas ke orang lain di sekitarnya.

"Jangan pernah takut di-tracing atau takut melakukan isolasi mandiri karena isoman justru menjadi bagian dari upaya kita untuk sama-sama saling menjaga," imbuhnya.

Terkait isolasi mandiri, Dewi menerangkan hal itu perlu dilakukan dengan pemantauan, tidak boleh berjalan sendiri. Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat bisa lebih banyak mendapat edukasi untuk lebih memahami tata cara isoman serta waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit saat terinfeksi COVID-19.

Sementara itu, dr. Lula Kamal yang juga hadir sebagai moderator dalam diskusi ini turut menekankan pentingnya peran seluruh masyarakat untuk memastikan 3T berjalan dengan baik.

"Salah satunya adalah mengingatkan masyarakat nggak usah takut sama tracing, malah kalau bisa sebelum di-tracing sudah duluan ke puskesmas dan Satgas kalau ada kontak erat. Itu lebih baik sebetulnya sebelum menularkan ke orang lain," pungkasnya.

(prf/ega)