Cerita di Balik Gagasan Giant Sea Wall Versi Ahli Geodesi ITB

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 18:54 WIB
Jakarta -

Ahli geodesi dari ITB Dr Heri Andreas mengaku pernah menyampaikan hasil penelitiannya soal potensi pesisir Jakarta tenggelam dan alternative solusi mencegahnya kepada Gubernur DKI Sutiyoso. Mungkin karena dinilai sebagai penelitian skala kampus, paparannya tak mendapatkan respons memadai.

Heri, yang melakukan penelitian sejak masih mahasiswa pada 1997, tak patah semangat. Dia kembali menyambangi Balai Kota untuk menemui Fauzi Bowo, yang menggantikan Sutiyoso. Tapi juga masih mentok. Tak lama berselang, kawasan utara Jakarta mengalami banjir rob pada 2007. Dia akhirnya merilis hasil penelitiannya terkait hal itu melalui jurnal internasional.

"Ternyata mendapatkan respons dari para ahli di Belanda. Mereka datang ke Bandung untuk berdiskusi lebih lanjut," kata Heri Andreas dalam program Blak-blakan di detikcom, Rabu (4/8/2021).

Tak cuma itu. Mereka akhirnya bersama-sama menemui Fauzi Bowo dan memaparkan potensi bencana dan sejumlah alternatif solusinya. Kali ini responsnya positif. Dia antara lain kemudian membentuk The Jakarta Coastal Development Strategy, yang merupakan cikal bakal National Capital Integrated Coastal Development (Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara). Dari situ kemudian muncul gagasan untuk membangun tanggul besar alias giant sea wall (GSW).

"Pertemuan dengan Pak Foke (Fauzi Bowo) itu sekitar 2008, setelah banjir rob terbesar di Jakarta 2007. Beliau akhirnya percaya, mungkin karena yang omong orang Belanda meskipun berdasarkan data-data yang kami punya," kenang Heri.

Merujuk pemberitaan sejumlah media, proyek GSW sepanjang lebih dari 60 kilometer itu berbarengan dengan reklamasi sejumlah pulau. Proyek tersebut masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah DKI untuk 2010-2030. Tapi kemudian beberapa ahli kelautan dan pesisir, LSM, dan Kementerian Lingkungan Hidup menolak proyek tersebut.

Gubernur Anies Baswedan pun meminta agar rencana pembangunan GWS dipertimbangkan ulang. Menurutnya, yang dibutuhkan Jakarta adalah pembangunan tanggul pantai, tapi kalau GWS merujuk kondisi di negara lain justru membuat air menjadi tidak bersih. Akan menjadi semacam kobokan.

Sejauh ini, negara yang memiliki tanggul laut adalah Belanda mengingat sebagian besar daratannya di bawah permukaan laut. Belanda membangun tanggul setelah dilanda badai laut berketinggian air 30 meter pada 1953. Badai itu menewaskan 1.835 orang dan memaksa 110 ribu warga mengungsi.

(jat/jat)