Tanpa Tanggul, Gunung Sahari dan Pluit Sudah Jadi Lautan

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 16:39 WIB
Jakarta -

Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden soal kemungkinan Jakarta akan tenggelam dalam 10 tahun ke depan mendapat respons dari ahli geodesi ITB. Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Dr Heri Andreas, yang meneliti penurunan tanah di pesisir Jakarta sejak 1997, menilai pernyataan Biden itu bagus untuk meningkatkan kesadaran semua pihak.

Sejak 1970-an, kata dia, tanah di pesisir Jakarta memang terus menurun. Pada 2007-2011, laju penurunan mencapai 10-20 sentimeter per tahun. Akibatnya, sekitar 14 persen di Jakarta Utara sudah di bawah laut. Tapi kemudian pemerintah membangun tanggul dan meninggikan infrastruktur di kawasan tersebut. "Pada 2007, itu terjadi banjir rob besar yang belum pernah terjadi sebelumnya," Heri saat berbincang dalam program Blak-blakan detikcom, Rabu (4/8/2021).

Kalau Jakarta tak segera membangun pelindung berupa tanggul laut atau pantai, dia melanjutkan, 14 persen wilayah pesisir itu akan tergenang secara permanen. Manfaat tanggul sejatinya tidak hanya menyelamatkan wilayah pesisir Jakarta Utara, seperti Muara Karang, Muara Baru, dan sekitarnya dari ancaman tenggelam. Wilayah Gunung Sahari, Pluit, dan Ancol pun bisa jadi lautan.

"Karena infrastruktur di pesisir ditinggikan dan pembuatan tanggul akhirnya sekarang di Gunung Sahari dan Pluit tidak jadi laut," ucapnya.

Dari tujuh faktor yang biasa menjadi sebab terjadinya penurunan tanah, Heri Andreas menduga eksploitasi air tanah menjadi penyebab utama. Sayangnya, hingga kini para ahli terkait masih memperdebatkannya. Karena itu, pemerintah belum dapat segera mengambil kebijakan untuk mengatasinya dengan terintegrasi.

"Sebenarnya di luar negeri juga sudah banyak kasus serupa akibat eksploitasi air tanah. Cuma di kita masih jadi perdebatan karena data pengukuran belum ada sehingga baru hipotesa sehingga kalau nanti sudah ada data ke jawab bahwa eksploitasi air tanah itu faktor penting lah," beber Heri.

Ia pribadi mengajukan solusi manajemen penggunaan air tanah dengan mendaur ulang atau menyulih air laut sebaiknya cepat ditempuh. Tapi disadarinya hal ini butuh waktu lama karena menyangkut perubahan budaya masyarakat.

"Karena itu di negara lain, seperti Jepang, menyiasati ancaman rob ini prioritasnya adalah membangun tanggul. Baru kemudian memperbaiki manajemen penggunaan air tanah," papar Heri Andreas.

Lihat Video: Megawati Komentari Prediksi Joe Biden soal DKI Tenggelam

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)