detik's Advocate

Saya Janda Tua Pinjam Pinjol Rp 1 Juta Bengkak Jadi Rp 60 Juta, Apa Solusinya?

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 09:31 WIB
Mengurai Benang Kusut Pinjaman Online Ilegal
Ilustrasi. (Foto: detik)
Jakarta -

Cerita soal pinjaman online (pinjol) tiada akhir. Kali ini dialami seorang janda tua yang meminjam Rp 1 juta tapi masuk 'jebakan Batman' dan membengkak menjadi Rp 60 jutaan. Bagaimana solusinya?

Hal itu dikisahkan seorang pembaca detik's Advocate dalam surat elektronik sebagai berikut:

Selamat sore Pak Andi Saputra,

Saya pensiunan janda, ibu rumah tangga biasa, usia 57 tahun.

Bulan Mei 2021 saya terjebak pinjol yang saya baru tahu kalau itu illegal. Awalnya sama dengan cerita dari Mawar (kisah pembaca detik's Advocate sebelumnya-red). Sama persis.

Saya jadi depresi, ketakutan yang amat sangat, sehari bisa ditelp/WA sekitar 99 kali dengan orang yang berbeda. WA saya buka isinya ancaman sebar data, intimidasi, semua sudah dilakukan entah saya respon/tidak sama saja.

Saya dikatai oknum penagih dengan kata-kata babi, anjing, lonte, sudah tua bau tanah dan banyak lagi. Seminggu saya shock berat.

Alhamdulillah anak-anak, teman-teman banyak yang menghibur supaya saya jangan terlalu mikir hal itu. Diusahakan untuk jual aset kami yang sampai sekarang belum juga laku.

Beberapa waktu dengan adanya pemberitaan di tv dan media, di mana pinjol-pinjol ilegal yang digerebek aparat, dari pihak OJK, oknum penagih mulai menghilang.

Di sini yang akan saya tambahkan adalah nama-nama dari pinjol-pinjol tersebut yang mungkin belum terkuak nama aplikasi mereka. Semoga bisa menjadi tambahan informasi, sehingga orang-orang yang terjebak seperti saya bisa lega, plong. Pinjol-pinjol tersebut adalah sebagai berikut:

-Aplikasi PP, memiliki 9 anak aplikasi
-Aplikasi RM memiliki 4 anak aplikasi
-Aplikasi DC memiliki 9 anak aplikasi

Sebetulnya yang tergabung diaplikasi tersebut di atas banyak sekali. Cuma yang terjadi pada saya, yang saya sebutkan di atas.

Saya tetap berusaha cari dana dengan jual aset rumah. Semoga ada titik terang, tidak ada lagi yang terjebak seperti saya/Mawar.

Mohon samarkan nama sy. Saya lega, berterima kasih dengan terbongkarnya pinjol-pinjol ilegal yang sangat meresahkan.

Saya pinjam awalnya pada satu-beberapa pinjol, tadinya Rp 1-2 juta. Membengkak jadi Rp 60 juta. Sampai hari ini karena saya belum ada dana untuk melunasi di sistem mereka lebih dari itu banyak pinjol. Akhirnya saya terjebak di situ. Jadi gali lubang tutup lubang.

Demikian Pak Andi, terimakasih atas perhatiannya. Semoga ada penanganan untuk pinjol ilegal ini sehingga semakin terbongkar keberadaan mereka-mereka.

Terima Kasih

Untuk menjawab permasalahan di atas, detik's Advocate menghubungi advokat Slamet Yuono, SH, MH. Berikut pendapat hukumnya:

Kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa Ibu Fulanah dimana masuk dalam lingkaran setan jebakan Rentenir Online/Pinjol ilegal, bahkan Ibu hendak menjual rumah untuk menutupi hutang dari pokok pinjaman 1-2 Juta membengkak jadi 60 Juta.

Semoga kejadian yang menimpa ibu dan disampaikan kepada Mas Andi Saputra/detikcom dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi masyarakat agar tidak berhubungan dengan Rentenir Online dan tidak tergiur dengan janji-janji yang diberikan seperti : tidak ada BI Checking, angsuran panjang, biaya ringan, cepat cair, syarat mudah, mencantumkan Logo OJK, mencantumkan Logo Kementerian Kominfo. Dimana pencantuman Logo OJK dan Kementerian Kominfo tersebut dilakukan secara melawan hukum dan merupakan salah satu modus agar masyarakat/calon nasabah menjadi yakin dan percaya jika Pinjol tersebut terdaftar dan diakui Pemerintah.

Dengan semakin nekat dan beraninya Pinjol Ilegal mencatut Logo OJK dan Logo Kementerian Kominfo untuk mendapatkan korban sebanyak-banyaknya maka masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, kehati-hatian dan kejelian agar tidak terjebak Rentenir Online/Pinjol Ilegal, kami menyarankan agar masyarakat tidak tergiur dengan janji-janji manis Rentenir Online, oleh karena itu harus melakukan pengecekan Aplikasi Pinjaman Online tersebut melalui email konsumen@ojk.go.id, atau melalui https://www.ojk.go.id/id/kanal/iknb/financial-technology/Default.aspx, di mana dalam website ojk tersebut disampaikan informasi antara lain :

1.Sampai dengan 27 Juli 2021, total jumlah penyelenggara fintech peer-to-peer lending atau fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK adalah sebanyak 121 perusahaan.
2.Terdapat penambahan 1 (satu) penyelenggara fintech lending berizin yaitu, PT Lentera Dana Nusantara sehingga jumlah penyelenggara fintech lending berizin menjadi 68 penyelenggara.
3,Selain itu, terdapat 3 (tiga) pembatalan tanda bukti terdaftarfintech lending yaitu, PT Perlu Fintech Indonesia, PT Digitron Solusi Indonesia, dan PT Jayindo Fintek Pratama dikarenakan ketidakmampuan penyelenggara meneruskan kegiatan operasional.

OJK mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan jasa penyelenggara fintech lending yang sudah terdaftar/berizin dari OJK.
Hubungi Kontak OJK 157 melalui nomor telepon 157 atau layanan whatsapp 081 157 157 157 untuk mengecek status izin penawaran produk jasa keuangan yang Anda terima.

Dari informasi yang disampaikan OJK tersebut di atas yang perlu diperhatikan, dicetak tebal dan digarisbawahi adalah fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK adalah sebanyak 121 perusahaan, sedangkan Pinjol Ilegal yang beredar dan menghantui masyarakat lebih dari 3000, di mana Pinjol Ilegal ini masuk dalam bidikan Bareskrim Polri, hal ini sebagaimana diberitakan detik.com pada tanggal 19 Juni 2021 dengan judul "Bidik 3000 Pinjol Ilegal, Bareskrim Akan Bongkar Jaringan Pelaku."

Lihat juga video 'Ribuan SIM Card Teregistrasi Pinjol, Polri 'Colek' Kominfo-Dukcapil':

[Gambas:Video 20detik]