Saat terpapar COVID, Koordinator Komunitas Tionghoa Semarang itu merasa sekujur tubuhnya linu. Selain itu, dia merasa sakit pada tenggorokan, batuk-batuk, napas sesak, dan penciuman hilang. Tapi kalau cuma mendapatkan itu semua, dia merasa sia-sia. Karena itu Harjanto bertekad kalau diberi kesembuhan harus menjadi donor plasma konvalesen. "Saya berdoa semoga antibodi dan kondisi darah saya cukup bagus untuk bisa jadi donor dan dikabulkan," ujarnya.
Dengan langkah itu, Harjanto mengaku merasa senang dan bangga, karena bisa membantu langsung untuk membantu kesehatan orang lain langsung dari tubuhnya. Langkah ini baginya merupakan kesempatan yang luar biasa sekali.
"Orang bisa menyumbang uang, dan macam-macam tapi kita juga bisa menyumbangkan plasma yang merupakan bagian dari tubuh kita untuk menyelamatkan nyawa orang lain," tutur Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong di Semarang itu.
Ia mengimbau para penyintas COVID lainnya agar juga menjadi donor plasma konvalesen. Sebab, dengan demikian, mereka bisa berbuat baik dan menjadi pahlawan cilik di masa pandemi ini. "Dan saya senang setiap habis donor mendapatkan cendera mata berupa tas dan tumbler dari PMI," ujarnya diiringi tawa. (jat/jat)











































