Omzet Turun 80%, Banyak Toko di Pasar Modern BSD Tutup Sejak Pandemi

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 11:49 WIB
Banyak toko tutup di Pasar Modern BSD (Foto: Kadek/detikcom)
Banyak toko tutup di Pasar Modern BSD. (Kadek/detikcom)
Tangerang Selatan -

Sejumlah toko di Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang Selatan, terlihat tutup. Rata-rata toko yang tutup itu adalah para penjual pakaian.

Pantauan detikcom di lokasi, Selasa (3/8/2021) pukul 10.10 WIB, tampak berderet toko tutup di pasar itu. Tampak bagian depan sejumlah toko yang tutup itu ditempeli tulisan 'disewakan'.

Salah seorang pedagang buku bernama Husain (55) mengatakan kebanyakan toko yang tutup dulu diisi pedagang pakaian. Harga sewa toko yang semakin mahal, kata Husain, menjadi salah satu penyebab para pedagang tidak berjualan lagi di sana.

"(Toko tutup) itu jualan baju. Ini (toko di samping) dulu makanan, ini (toko) baju, ini satu doang masih buka, lagi libur kali. Iya, tadinya yang tutup toko baju, mungkin di sini kan sewanya mahal, kondisi pandemi begini kan turun omzet. Sewa masih mahal aja, ya susahlah," kata Husain saat ditemui di lokasi.

Husain sudah berjualan buku bekas di pasar tersebut selama belasan tahun. Dia mengaku pendapatannya menurun sampai 80 persen semenjak pandemi COVID-19.

"Jualan buku. Sebelum pandemi ya lumayan, sekarang turun. Dulu di atas Rp 10-15 juta omzetnya, sekarang ya Rp 5 juta juga kurang. Penurunannya 70-80 persen. Saya udah lama di sini, 13 tahun lebih," ujarnya.

Husain setuju tak setuju PPKM level 4 diperpanjang. Menurutnya, saat pandemi COVID-19 sebelum PPKM diterapkan, pembeli memang sudah sepi.

"Ya nggak ada PPKM pandemi gini sepi, apalagi ada PPKM. Ya setuju nggak setuju (PPKM diperpanjang)," tuturnya.

Pedagang lainnya, Udin (56), juga mengatakan banyak toko pakaian dan makanan yang tutup. Toko-toko itu tutup semenjak pandemi COVID-19 karena tidak sanggup membayar biaya sewa.

"(Toko yang tutup) ada yang jualan baju, ada yang jualan makanan. Ini pada nggak kuat bayar kontrakan, makanya pada kosong. Iya, tutup semenjak pandemi. Kontrak mahal, pengurus lingkungan mahal, tiap tahun naik, ada yang Rp 30 juta, ada yang Rp 25 juta. Lihat saja (toko) yang sana, lebih banyak lagi (toko tutup)," kata Udin.

Udin sudah lebih dari 10 tahun berjualan pakaian di pasar ini. Dia mengatakan omzetnya menurun karena sepi pembeli.

"Saya jualan udah dari pertama pasar ini, ya 10 tahun lebih ada. Sepi nih, ya PPKM diperpanjang si setuju saja, cuma ini dampaknya begini. Omzet menurun, jual juga sepotong dua potong (baju), istilahnya gitu," ucapnya.

"Penurunannya ya lebih dari 80 persen. Sebelum pandemi ya lumayanlah istilahnya. Kalau dagang kan nggak bisa ditentuin," sambungnya.

Sementara itu, situasi berbeda terlihat di bagian penjual sayur mayur. Tampak pembeli yang datang terlihat ramai dan mengenakan masker namun masih dapat saling jaga jarak.

Seorang pedagang sayur bernama Efendi (51) mengatakan, meski pemasukan agak berkurang, pembeli masih terbilang normal. Dia mengatakan hasil penjualannya masih cukup untuk makan.

"Ya pengaruh juga PPKM, ya normal aja gitu, tapi nggak begitu ramai. Pemasukan berkurang, normal. Ada aja yang beli, cuma nggak begitu banyak. Untuk makan sih sedikit-sedikit ada gitu, nggak kekurangan. Cuma agak sepi, tapi masih ada yang beli," imbuhnya.

(mae/mae)