Cerita Warga Jaksel Tak Bisa Vaksin Gegara NIK Terdaftar Nama Orang Lain

Dwi Andayani - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 21:04 WIB
A dose of the Phase 3 Novavax coronavirus vaccine is seen ready for use in the trial at St. Georges University hospital in London Wednesday, Oct. 7, 2020. Novavax Inc. said Thursday Jan. 28, 2021 that its COVID-19 vaccine appears 89% effective based on early findings from a British study and that it also seems to work — though not as well — against new mutated strains of the virus circulating in that country and South Africa. (AP Photo/Alastair Grant)
Ilustrasi Vaksin (AP/Alastair Grant)
Jakarta -

Seorang warga Jakarta Selatan mengalami kesulitan mendapatkan vaksinasi COVID-19. Hal ini terjadi lantaran NIK-nya telah terdaftar atas nama orang lain yang telah divaksinasi.

Kasus ini bermula saat Ami (44) dan suaminya hendak melakukan vaksinasi dan mendaftarkan diri melalui JAKI pada 19 Juli 2021. Registrasi melalui JAKI disebut berhasil, tapi kendala ditemukan saat proses registrasi ulang di lokasi vaksinasi.

Ami mengatakan berhasil registrasi ulang dan melakukan vaksinasi. Sedangkan suaminya tertahan karena NIK disebut telah terdaftar atas nama orang lain dengan status telah divaksinasi.

"Waktu itu tanggal 19 Juli saya pertama daftar di JAKI berdua sama suami, terus saya ke lokasi vaksin saya lolos terus pada saat suami di registrasi ulang itu sudah terdaftar NIK atas nama orang lain dan sudah divaksin," kata Ami kepada wartawan, Senin (2/8/2021).

Ami mengatakan dia diminta menghubungi call center 119 untuk melapor. Namun hingga kini dia tidak bisa tersambung dengan 119.

"Dari pihak tim vaksinnya itu dia bilang suruh menghubungi 119, saya hubungi terus sampai hari ini juga saya coba terus tapi nggak pernah bisa. Pada saat saya telepon 119, terus ekstensi 9, terus 1, itu langsung mati," kata Ami.

Pada 24 Juli 2021, Ami mengaku kembali mencoba mendaftar vaksinasi melalui PeduliLindungi. Namun pendaftaran gagal pada saat memasukkan NIK dengan informasi bahwa NIK telah terdaftar.

"Saya coba pas anak saya mau vaksin hari Senin berikutnya anak saya vaksin saya daftarin lagi suami saya di PeduliLindungi, itu nggak bisa juga. Karena pada saat masukin NIK itu sudah langsung tertulis NIK sudah terdaftar. Kalau di JAKI masih bisa masuk tapi pas daftar ulang tidak bisa," kata Ami.

"Akhirnya karena nggak bisa coba deh datangin lagi ke tempat vaksin, karena kan tempatnya sama sama tempat anaknya vaksin di sekolah SMP86. Datanglah suami saya ke sana, tetep nggak bisa juga, di cek lagi NIK suami saya, terus iya saya sudah daftar ke PeduliLindungi tidak bisa juga karena NIK telah terdaftar, suami saya bilang begitu," sambungnya.

Tidak sampai di situ, Ami juga mengaku mencoba mengecek status NIK suaminya ke Dukcapil. Hasilnya NIK tersebut benar terdaftar atas nama suaminya.

"Akhirnya saya punya ide untuk ke dukcapil, apa saya ada dobel data atau gimana. Ternyata di dukcapil sudah terverifikasi kalau NIK itu atas nama suami saya dan tidak ada masalah," tuturnya.

Ami mengatakan dia telah mendatangi puskesmas dan mengontak tim Satgas COVID-19. Namun dia tetap diarahkan untuk menghubungi 119 dan mendaftar di PeduliLindungi.

"Saya coba tanya ke tempat lain, ke puskesmas lain jawabannya sama ke 119, dan itu sampai sekarang nggak bisa tersambung saya nggak bisa komunikasi sama 119. Terus saya coba cari cari WA ke satgas COVID, itu responnya balik lagi saya harus masuk login ke PeduliLindungi, sedangkan dari awal saya nggak bisa kan," tuturnya.

Upaya untuk mendapatkan vaksin pun kembali dilakukan dengan mengontak nomor Kemenkes RI pada 30 Juli 2021. Namun Ami mengaku belum mendapatkan respon hingga saat ini.

"Nah saya search lagi, coba saya masuk ke WA-nya Kemenkes RI walaupun di situ khusus untuk tenaga kesehatan tapi saya tetep masuk, itu sudah centang dua tapi sampai sekarang belum direspon, saya berharap Senin, kalau Jumat sore malem kan itu bukan jam kerja, saya berharap Senin sudah dapat respons ini sama sekali nggak ada," tuturnya.

Menurutnya, kasus NIK ganda sebelumnya juga terjadi di Jogja. Namun warga tetap dapat divaksin dengan pelayanan secara manual.

"Saya cari tau juga, banyak banyak baca di Jogja ada kasus yang sama dobel NIK tapi mereka bisa melayani secara manual cuma terkendala di sertifikat," kata Ami.

Ami mengaku bingung karena sulit mendapatkan vaksinasi untuk suaminya. Sementara ia mengaku suaminya bekerja mobile dan beresiko bila tidak mendapatkan vaksin.

"Saya bingung, sementara suami saya mobile ngerinya dengan meningkat ini belum vaksin, ini kan bahaya banget. Kok mau vaksin malah nggak bisa dipersulit," pungkasnya.

(dwia/imk)