Heboh 'Mati Corona ala Madura', Pakar Nilai Butuh Peran Ulama

Isal Mawardi - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 06:42 WIB
Beginilah suasana pelayanan pasien di kawasan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja, Jakarta Utara, Kamis (24/6). Tampak kesibukan terjadi akibat lonjakan kasus Corona di Jakarta.
Ilustrasi pasien Corona (Pradita Utama/detikcom)
Madura -

Cuitan akun twitter @Antonius061 mengenai 'mati Corona ala Madura' viral di jagat maya. Kondisi masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan seakan-akan tidak ada wabah dinilai sudah terbentuk secara kultural.

"Memang Madura ini rupanya kulturnya ya kultur yang memang sedikit perlu penanganan khusus karena sejarah menunjukkan hal yang sama," ujar epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Windhu Purnomo, ketika dihubungi detikcom, Minggu (1/8/2021).

Kultur ini, lanjut Windhu, terbentuk karena sejumlah faktor. Salah satunya terkait pendidikan.

"Persepsi risikonya (warga Madura) rendah tentang penyakit menular, itu rendah, itu bisa karena pendidikan yang kurang memadai," jelas Windhu.

Windhu mencontohkan perusakan posko penyekatan yang dilakukan oleh orang-orang Madura beberapa hari ke belakang. Sebagian yang merusak adalah mahasiswa.

"Mahasiswa kan bukan orang sembarangan, mahasiswa kan orang yang berpendidikan cukup, nyatanya persepsinya rendah. Jadi ada soal kultur menurut saya ya memang harus didekati secara sosiologis dan kultural," jelas Windhu.

Kondisi Miris di Madura

Windhu mendapatkan laporan dari rekan-rekannya yang bekerja di Dinas Kesehatan. Ia menyebut masih banyaknya warga yang melaksanakan salat jenazah di masjid secara beramai-ramai meski diketahui, jenazah itu merupakan pasien Corona.

"Kematian di sana (Madura) tinggi tetapi tidak tercatat karena yang dilaporkan itu kan yang positif yang sudah dites, mereka kan tidak mau dites, mati ya mati begitu saja," jelas Windhu.

Selain itu, Windhu pernah mengunjungi Madura sebelum terjadi ledakan Corona. Windhu menyebut masih banyak warga Madura yang abai terhadap protokol kesehatan.

"Saya pernah ke Pamekasan, yang saya lihat tidak ada orang pakai masker, di pasar kita melewati beberapa pasar, itu tidak ada (pakai masker)," ujarnya.

"Penyakit itu dianggap takdir saja," lanjutnya.

Wabah Spanish Flu

Windhu membahas salah satu wabah penyakit yang pernah eksis di Indonesia pada awal abad ke-20, yakni Spanish Flu. Kala itu, Madura menjadi wilayah yang paling terdampak wabah tersebut.

"Yang meninggal itu 23,71% dari penduduk Madura itu tahun 1918 sampai 1919," terang Windu.

"Jadi Madura itu hampir seperempat orangnya meninggal habis kena Spanish Flu," lanjutnya.

Di bawah Madura, ada Banten dengan 21,13 % yang warganya meninggal dunia karena Spanish Flu, selanjutnya ada Jakarta dengan 6,49%.

Simak juga video 'Angka Kematian Tinggi Jadi Sorotan di Kebijakan PPKM Level 4':

[Gambas:Video 20detik]



Ulama perlu bertindak. Simak selengkapnya di halaman berikutnya

Ulama Perlu Bertindak

Menurut Windhu, peran ulama sangat penting untuk menyadarkan pentingnya protokol kesehatan di Madura.

"Makanya didekati para ulama, kita dekati ulamanya. Saya pernah ngobrol ngobrol dengan beberapa ulama di sana di dalam sebuah webminar. Ada yang bagus para ulamanya, tapi itu hanya beberapa saja, yang lain itu ya sama dengan masyarakatnya," jelas Windhu.

Cuitan 'Mati Corona ala Madura'

Cuitan itu berisi tulisan dari Firman Syah Ali yang menceritakan kondisi Pamekasan tampak normal dalam status PPKM level 3, padahal pandemi COVID-19 tengah melonjak saat ini.

Firman menjelaskan warga di Pamekasan tetap menjalankan aktivitas normal selama PPKM level 3-4. Menurut Firman, banyak hajatan yang digelar warga di Pamekasan.

"Paling banyak itu hajatan luar biasa, ndak ada itu prokes juga, dan ya herannya nggak ditegur. Meski begitu, warga itu sebenarnya percaya Corona, tapi nggak mau sampai selalu dipikir," terangnya.

Firman, yang juga keponakan Mahfud Md, menyebut akhir-akhir ini ada imbauan dari Ketua DPRD Pamekasan agar tidak mengumumkan kematian warga melalui TOA masjid. Hal ini untuk menjaga kondisi psikis warga.

Firman menambahkan warga Madura juga belakangan ini teringat thaun. Yakni sebuah kepercayaan warga lokal, jika ada seseorang yang mengetuk pintu tengah malam, dan warga itu menjawab, ajal akan menjemput.

Berikut isi lengkap cuitan tersebut:

Akhir-akhir ini banyak sekali orang meninggal dunia di Madura, diantara mereka ada saudara, tetangga, teman sekolah bahkan mantan saya. Berita-berita kematian itu sebagian saya dengar sendiri secara langsung melalui pengeras suara Masjid, sebagian melalui cerita tamu selama saya menjalani Isolasi Mandiri, namun sebagian besar saya baca di media sosial.

Selama saya menjalani isolasi mandiri, saya sama sekali tidak keluar rumah, saya berada di kompleks tanean lanjang Bani Hasyim Dusun Seccang, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Kab Pamekasan. Begitu saya selesai Isolasi Mandiri barulah saya keluar rumah.

Begitu keluar rumah saya kaget melihat aktivitas warga normal seperti biasa, padahal berita duka terus bertalu-talu dari ujung ke ujung. Pasar Blumbungan tetap ramai bahkan macet, orang-orang santai ceria tanpa masker, tukang amal masjid teriak-teriak dengan kalimat-kalimat yang lucu.

Belok kiri ke arah Aeng Pennay saya jumpai banyak rombongan mantenan tanpa masker, sebagian diantaranya naik pick up bak terbuka penuh sesak juga tanpa masker, bergembira ria dalam rombongan mantenan sanak saudaranya itu. Saya main ke rumah sepupu, dia baru datang dari tahlilan.

Saya bertanya "sakit apa yang kamu tahlili itu?", dengan santai dia jawab "yaa sakit yang sekarang ini". Buahahaha istilahnya bukan corona kalau di Madura, tapi "penyakit yang sekarang ini".

Mereka ya tidak dilaporkan ke puskesmas, dimandikan biasa, disholati dan ditahlili biasa, sehingga tidak masuk data resmi korban Corona di Kabupaten setempat. Begitu usai tahlilan biasanya beberapa tetangga dan keluarga almarhum menyusul meninggal dunia, namun tetap saja tidak disebut corona, mereka disebut mati kena penyakit yang sekarang ini.

Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, disebut mati sesak nafas, mati capo' cap (influenza) dan banyak lagi istilah lainnya, yang intinya orang madura menghindari istilah Corona yang dengan sendirinya menghindari protokol Covid-19 terhadap jenazah keluarga/tetangganya.

Bahkan yang terbaru di Pamekasan muncul tradisi baru, yaitu menghentikan siaran berita duka melalui pengeras suara. Bahkan di beberapa grup WA masyarakat Madura saya dimusuhi dan dimarahi ramai-ramai gara-gara selalu posting berita duka, padahal orang yang saya posting berita dukanya itu merupakan orang-orang yang mereka kenal juga.

Akhirnya saya berpikiran jangan-jangan ini cara orang madura untuk melindungi dirinya dari serangan pembunuh imun. Mereka tidak mau imun mereka runtuh terkapar gara-gara dengar nama corona, protokol kesehatan dan berita duka. Mereka ingin anggap itu semua tidak ada. Atau ini mungkin cara mencapai Herd Immunity alami ala Madura? Wallahu a'lam.

Ya seperti dalam semua peristiwa lainnya, orang madura selalu punya cara sendiri. Saat saya menulis artikel ini, saya sedang duduk santai di rumah sepupu sambil mendengarkan musik dangdut dari tetangganya yang sedang hajatan mantenan.

Undangannya banyak sekali, satupun tidak ada yang mengenakan masker dan jaga jarak. Padahal baru saja tetangga shohibul hajat meninggal dunia akibat "penyakit sesak nafas" atau "panyaket se sateyah. Dan itu terjadi dimana-mana bukan hanya di dekat rumah sepupu saya ini.

(isa/imk)