Anggota DPRD Banten Tanggapi Wali Kota Tangerang Soal 'Uang Kresek' Bansos

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 21:31 WIB
Anggota DPRD Banten Jazuli Abdilah
Foto: dok Pribadi-Anggota DPRD Banten Jazuli Abdilah
Jakarta -

Anggota DPRD Banten, Jazuli Abdilah, menanggapi ramainya pemberitaan terkait Bantuan Sosial di Kota Tangerang. Sebelumnya, dalam wawancara di salah satu stasiun televisi, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah menyinggung adanya pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang diduga melakukan pemotongan nilai bantuan sebesar Rp 50.000.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi viralnya temuan Menteri Sosial Tri Rismaharini saat melakukan sidak di sejumlah titik di Kota Tangerang.

"Kita enggak tahu nih apakah (oknumnya) dari pendamping PKH? Kemarin disampaikan informasinya demikian. Itu nilainya Rp 50.000. Kalau bantuannya itu kan ada Rp 300.000 terus juga ada beras 10 Kg. Ini (potongan 50.000) di kala pandemi sekarang ini nilainya cukup besar dan sangat membebani. Dan aturannya memang tidak boleh dipotong. Makanya pihak Kementerian Sosial itu menugaskan Kantor Pos untuk mendistribusikan bantuan langsung ke rumah-rumah, door to door. Nah, dari rumah-rumah itu yang megang surat undangan pun itu semua dari pendamping, pendamping PKH," ujar Jazuli sebagaimana dipaparkan Arief, dalam keterangannya, Minggu (1/8/2021).

"Tugas dari pendamping ini ya mendampingi Program Keluarga Harapan itu. Nah inilah yang sebenarnya kita tidak dilibatkan dalam mengkoordinasikan pendamping-pendamping PKH. Semua direkrut dari Kementerian Sosial dan dibayar gajinya juga oleh Kementerian Sosial," tambah Jazuli.

Menurut Jazuli, ada tiga poin yang disampaikan Arief. Pertama, ia hendak mengklarifikasi bahwa kasus pemotongan itu terjadi pada program bantuan sosial PKH oleh pendamping. Sementara PKH merupakan program pemerintah pusat, di mana pemerintah daerah tidak terlibat atau dilibatkan dalam mengkoordinasikan pendamping.

Kedua, lanjut Jazuli, Arief ingin memberikan tanggapan empatik bahwa kasus pemotongan itu telah merugikan warganya yang sangat membutuhkan bantuan di tengah pandemi. Ia menilai pemotongan Rp 50.000 terhadap besaran bantuan Rp 300.000 dan beras 10 kg sangat besar dalam situasi sekarang ini.

Ketiga, ia hendak memberikan masukan dan kritik kepada pemerintah tentang PKH yang selama ini tidak melibatkan pemerintah daerah, khususnya dalam mengkoordinasikan pendamping yang bertugas membagikan surat undangan.

Menurut Jazuli, pernyataan Arief kurang tepat dan kurang hati-hati sehingga menimbulkan salah paham, bahkan mengarah ke fitnah di tengah masyarakat.

"Betul bahwa PKH adalah program pemerintah pusat. Tetapi bukan berarti pemerintah daerah sama sekali tidak terlibat/dilibatkan. Pemerintah daerah bertanggung jawab untuk melakukan edukasi dan sosialisasi terhadap pendamping PKH atau pendamping sosial terkait, petugas kecamatan juga kelurahan," terangnya.

"Edukasi yang dimaksud tidak sebatas menjelaskan mengenai kebijakan PKH, tetapi juga tata cara penyampaian pengaduan. Wali kota bahkan bertanggung jawab melaksanakan pemantauan dan pelaksanaan pemberian bantuan, menerima dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat, serta menyediakan pendamping dan/atau aparat setempat untuk membantu proses sosialisasi dan verifikasi penerima bantuan," lanjut Jazuli.

Karena itu, menurutnya, sikap Arief yang mengelak dan terkesan cuci tangan atas temuan kasus di lapangan sangat tidak tepat. Apalagi, lanjutnya, penyaluran program yang disidak oleh Menteri Sosial bukan hanya PKH, melainkan Bantuan Sosial Tunai (BST) dan Program Pangan/BPNT.

Di sisi lain, temuan atas dugaan kasus penyalahgunaan di lapangan juga bukan hanya PKH, melainkan semua jenis bantuan, termasuk BST dan BPNT.

Bahkan menurut Jazuli, Arief terkesan kurang memahami jenis-jenis bantuan yang disalurkan pemerintah pusat beserta nominal masing-masing.

Jazuli menegaskan bahwa dalam pernyataannya, Arief cenderung menyalahkan pendamping PKH dan pemerintah pusat. Sayangnya, nominal bantuan yang disebut Rp 300.000 dan beras 10 kg di mana penyalurannya melalui Kantor Pos.

"Padahal, itu jelas bukanlah jenis bantuan PKH. Lebih tepatnya itu adalah Bantuan Sosial Tunai (BST) yang disalurkan khusus untuk menanggulangi dampak COVID-19. Dan petugas yang melaksanakan juga bukan pendamping PKH, melainkan dari TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) dan PSM (Pekerja Sosial Masyarakat). Hal ini menunjukkan Walikota kurang hati-hati dalam memberikan pernyataan," ujarnya.

Jazuli menilai, boleh saja memberikan masukan dan kritik kepada pemerintah pusat selama menyasar tepat pada persoalan. Meski begitu, menurut dia, bukan tempatnya bila disampaikan lewat media/tv nasional di tengah mencuatnya dugaan kasus penyelewengan/penyalahgunaan bansos.

"Bagaimana pun, pemerintah daerah adalah bagian dari pemerintah pusat, punya tanggung jawab atas bantuan yang disalurkan pemerintah pusat," lanjutnya.

Ia menyebut, kritik yang disampaikan karena pemerintah daerah tidak dilibatkan untuk mengkoordinasikan pendamping dalam memberikan undangan pencairan bansos merupakan kritik yang salah sasaran. Ia menegaskan, dalam Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 63 Tahun 2017 Tentang Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai di Bab V Pasal 17 sangat jelas terkait peran kepala daerah.

Jazuli menambahkan, PKH disalurkan langsung ke rekening Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sehingga tugas pendamping tidak memberikan undangan pencairan.

"PKH sendiri merupakan program lama, jauh sebelum COVID-19, di mana dari sisi pelaksanaannya bisa dikatakan sudah mapan karena terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Begitu juga Program Pangan/BPNT," lanjutnya.

Sementara BST, kata dia, meskipun baru pada saat pandemi, tetapi penyalurannya tidak jauh beda dengan PKH dan Program Pangan, yaitu ke rekening kelompok penerima manfaat (KPM) atau melalui Kantor Pos jika tidak dapat disalurkan melalui rekening.

"Sekali lagi pernyataan tersebut cenderung menunjukkan ketidakpahaman Wali Kota Tangerang," tegasnya.

Jazuli berharap, ke depannya Arief dapat melakukan klarifikasi lebih jelas atas pernyataannya tersebut pada media di mana disampaikan sebelumnya.

Selain itu, ia meminta para pendamping PKH yang merasa dirugikan oleh pernyataan tersebut agar tetap tenang dan melaksanakan tugasnya seperti biasa.

"Dan, terakhir, saya berharap agar semua elemen pemerintah dan pihak terkait terus meningkatkan koordinasi dan kolaborasi untuk memaksimalkan kebijakan dalam rangka menanggulangi dampak COVID-19. Semua instansi di semua tingkatan tidak saling mengelak apalagi menyalahkan ketika terdapat temuan di lapangan. Agar proses penyaluran bantuan dalam bentuk apapun, terutama di masa pandemi COVID-19 sesuai aturan dan tepat sasaran," pungkasnya.

(ega/ega)