RSU dr Soetomo Mulai Gelar Operasi Face Off
Selasa, 28 Mar 2006 06:01 WIB
Surabaya - Tim dokter RSU dr Soetomo Surabaya akan menjalankan operasi face off (rekonstruksi wajah secara total) atas pasien berisial 'S' (22) pada Selasa (28/3/2006) pagi ini. Operasi terhadap 'S' rencananya dimulai pukul 09.00 WIB. Tapi, pasien yang wajahnya berparut akibat tersiram air keras itu, mulai masuk ruang operasi sekitar pukul 06.00 WIB, di lantai 6 gedung GBPT RSU dr Soetomo. Sebagai antisipasi dalam operasi skala besar bidang medis ini, tim dokter menyediakan darah sebanyak 20 bag. Seluruh pelaksanaan operasi diperkirakan memakan waktu 15 jam sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.Operasi terhadap S yang mengalami kerusakan wajah sejak 3 tahun lalu itu membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan secara matang dan cermat. Maklum ini merupakan operasi face off pertama di Indonesia.Tim dokter RSUD Dr Soetomo Surabaya bersinergi dengan pakar bedah plastik dan ahli medis lainnya dari berbagai kota di Indonesia. Antara lain terdapat dr Gwendy Anioko SpBB dari Jakarta yang dikenal ahli bedah plastik, dr Ira dari Bandung, dr Herman dari Malang, dan lainnya.Tim dokter juga melibatkan puluhan dokter dari berbagai ahli dalam melakukan operasi ini. Setidaknya ada 13 bagian medis yang diminta partisipasi untuk mendukung operasi rekonstruksi wajah pasien S. Selain ahli bedah plastik, operasi juga melibatkan tim dokter anestesi, tim mikrobiologi, tim psikiater,tim rehabilitasi medik, tim farmasi, tim bedah kepala dan leher, tim radiologi, tim anestesiologi, dan tim lainnya."Tim sudah mengidentifikasi dan mempersiapkan cara pencegahan terhadap kemungkinan risiko medis yang timbul selama dan pasca operasi," jelas drM Sjaifuddin Noer SpBB, Ketua tim dokter face off RSU dr Soetomo kepada wartawan, Selasa (28/3/2006) di Gedung GBPT RSU dr Soetomo.Berdasar rekaan dan mapping wajah yang akan dioperasi, lebar wajah pasien yang direkonstruksi total adalah 24 cm dan tingginya 25 cm. Area kulit wajah yang rusak akibat tersiram air keras itu nantinya digantikan kulit baru yang ditumbuhbiakkan di bagian punggung pasien. Beberapa risiko medis yang kemungkinan ditanggung pasien selama dan pasca operasi di antaranya, masalah jalan nafas pasien. dr Sjaifuddin menjelaskan, masalah jalan nafas perlu dikuasai selama dan pascapembedahan di daerah leher dilakukan. Untuk itu tim dokter akan menjalankan apa yang disebut tracheostomy."Memang adanya tracheostomy menyebabkan pasien tak bisa berbicara normal. Tapi itu sifatnya sesaat. Tak mungkin pasien bernafas melalui hidung, karena daerah sekitar wajah dioperasi total. Karena itu, kita buatkan jalan pernafasan baru melalui leher," terangnya.Risiko lain yang telah diperhitungkan tim dokter adalah terjadinya pendarahan, graft failure atau kegagalan aliran darah ke bagian tubuh yang tertanam, pendarahan masif pascaoperasi, infeksi pascaoperasi, trombosis buntu, hematome, dehisensi, flap nekrosis atau usaha menempel kulit yang tak berhasil, contour, dan unacceptable scar. "Tapi, tim telah mempersiapkan semua langkah antisipasi dari kemungkinan risiko medis tersebut," tandas Dr dr David S Perdanakusuma, ahli bedah plastik.
(fay/)











































