Waket MPR: Semangat Kebersamaan Akan Bebaskan dari Hantaman COVID-19

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 23:50 WIB
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat
Foto: dok MPR
Jakarta -

Para pemangku kepentingan di pusat dan daerah telah melewati tantangan berat dalam menghadapi pandemi COVID-19. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mengatakan bahwa hal ini harus dihadapi dengan semangat kebersamaan dalam menjalankan kebijakan pengendalian COVID-19.

"Saat ini tantangan yang kita hadapi dalam pengendalian COVID-19 di tanah air sangat besar, baik di sisi hulu maupun hilir. Hanya dengan semangat kebersamaan sebagai sesama anak bangsa, kita akan mampu membebaskan Ibu Pertiwi dari hantaman virus corona," kata politisi yang akrab disapa Rerie ini dalam keterangannya, Minggu (1/8/2021).

Ia memaparkan, sejumlah strategi telah diterapkan pemerintah dengan berbagai istilah, mulai dari PSBB, PPKM mikro, PPKM darurat hingga PPKM level 1-4, yang saat ini pada fase perpanjangan hingga 2 Agustus. Sejumlah kebijakan itu, kata dia, dilakukan untuk membatasi mobilitas masyarakat.

Namun, ujar Rerie, karena dalam menjalankan kebijakan tersebut belum sepenuhnya terbentuk komitmen kebersamaan yang kuat antara masyarakat dan para pemangku kepentingan di pusat dan daerah, sejumlah kebijakan pun belum mampu mengendalikan penyebaran COVID-19.

Ia mengakui, ada sejumlah kota yang mampu menekan jumlah kasus positif COVID-19. Namun, lanjutnya, lebih banyak daerah yang belum mampu menahan laju pertambahan kasus tersebut.

Sehingga, ungkapnya, berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan jumlah kasus positif COVID-19 di tanah air terus bertambah. Adapun per Sabtu (31/7), total kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 3,4 juta.

Sementara itu, kata dia, positivity rate harian nasional pada tanggal yang sama tercatat 24,82%. Menurut Rerie, angka itu masih jauh dari standar yang ditetapkan WHO yaitu di bawah 5%.

Ia juga menyayangkan penambahan kasus positif COVID-19 harian tertinggi yang sejauh ini tercatat pada Kamis (15/7) sebanyak 56.757 kasus. Kata dia, kenaikan justru terjadi pada saat kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat ditetapkan.

Demikian juga dengan angka kematian akibat COVID-19 tertinggi terjadi pada Selasa (27/7) yang tercatat 2.069 orang meninggal dunia. Meski harus diakui, tambahnya, capaian tingkat kesembuhan tertinggi tercatat pada Selasa (27/7) sebanyak 47.128 orang, juga terjadi saat kebijakan pembatasan mobilitas orang diterapkan.

Berdasarkan capaian tersebut, jelas anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, terlihat belum terbentuk komitmen yang cukup kuat dari para pemangku kepentingan dan masyarakat dalam menjalankan kebijakan pengendalian COVID-19. Rerie mengatakan, sejumlah pakar epidemiologi bahkan memperkirakan upaya pengendalian COVID-19 akan berjalan dalam waktu yang cukup lama.

Pada kondisi tersebut, ia menilai, masyarakat dan para pemangku kepentingan membutuhkan dorongan semangat dalam setiap kesempatan agar tetap berkomitmen kuat dalam pengendalian COVID-19.

Ia menegaskan, pada bulan kemerdekaan, menggelorakan semangat perjuangan diharapkan bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan komitmen anak bangsa lewat berbagai upaya agar bisa merdeka dari COVID-19. Karena berjuang merebut kemerdekaan, ujarnya, bukan melulu dengan mengangkat senjata.

Menurut Rerie, di masa pandemi ini berbagai upaya untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, seperti disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam keseharian dan bersedia divaksin COVID-19 merupakan bagian dari bentuk perjuangan untuk merdeka dari ancaman COVID-19.

Demikian pula, tambahnya, upaya konsisten dari para pemangku kepentingan dalam meningkatkan testing, tracing, dan treatments (3T), yang diharapkan mampu menghasilkan data akurat, sehingga tahapan pengendalian COVID-19 lebih tepat sasaran.

(ega/ega)