Pemerintah Imbau Masyarakat yang Kontak Erat COVID untuk Proaktif

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 12:52 WIB
The photo taken on July 30, 2021 shows a man receiving nucleic acid testing for the Covid-19 coronavirus in Huaian, in eastern Chinas Jiangsu province, as China raced to contain its worst coronavirus outbreak in months. (Photo by STR / AFP) / China OUT
Foto: AFP/STR
Jakarta -

Pemerintah mengimbau masyarakat yang terjangkit maupun kontak erat dengan pasien COVID-19 untuk bersikap proaktif. Hal ini penting dilakukan untuk untuk menghadang penyebaran virus lebih lanjut, meningkatkan kesembuhan pasien, serta mencegah angka kematian.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menuturkan masyarakat tidak perlu ragu untuk melaporkan kepada petugas bila dirinya atau keluarganya terkonfirmasi positif COVID-19. Laporan langsung dari masyarakat yang positif akan mempercepat petugas dalam mengambil tindakan.

"Kami harapkan juga bahwa jika ada keluarga kita, tetangga kita, atau kerabat kita yang terkonfirmasi positif COVID-19, jangan dikucilkan atau dihina, tapi harus kita bantu dan berikan dukungan," jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/7/2021).

Lebih lanjut, dia mengatakan dengan melapor kepada petugas setempat, Puskesmas atau Bidan Desa, pasien yang tengah melakukan isoman akan mendapatkan arahan apa yang harus dilakukan, serta terutama, dipantau kesehatannya. Pasien juga akan mendapatkan paket obat dan vitamin yang sangat diperlukan untuk menunjang kesembuhan.

Selain itu, pemerintah juga membagikan 2 juta paket obat isoman gratis kepada masyarakat secara bertahap, serta menyediakan layanan telemedicine bagi pasien tanpa gejala atau gejala ringan yang melakukan isolasi mandiri.

Adapun cara untuk mendapatkan fasilitas tersebut, pasien dapat melakukan tes PCR di laboratorium yang terafiliasi dengan Kemenkes. Bila pasien terdeteksi positif, maka petugas akan memberikan informasi terkait cara mendapatkan obat dan link untuk konsultasi kesehatan secara online.

"Masyarakat kami harapkan bersikap proaktif menggunakan berbagai layanan yang telah ada, agar dapat memperoleh penanganan yang maksimal. Yang pasti, masyarakat jangan khawatir, percaya bahwa pemerintah selalu mengupayakan yang terbaik bagi semua," tegasnya.

Di sisi individu, pemerintah mengharapkan bantuan masyarakat terjangkit COVID-19 untuk lebih bersikap proaktif dan waspada. Seluruh pasien tanpa gejala atau gejala ringan sekali pun, apabila pengukuran saturasi dengan oximeter sudah di bawah 94%, langsung dirujuk ke rumah sakit atau isolasi terpusat terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Fakta di lapangan, sebagian pasien kasus positif menolak dirujuk ke pusat isolasi, atau memilih tidak melaporkan kepada petugas, karena stigma masyarakat yang masih menganggap COVID-19 ini semacam aib, sehingga mereka malu. Sementara, kecepatan dan ketepatan penanganan dari tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan risiko
kematian.

"Saat ini sekitar 15% pasien COVID-19 mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara sisanya melakukan isolasi mandiri. Karena itu, penguatan pengawasan dan pemantauan terhadap para pasien isolasi menjadi sangat krusial, tidak hanya untuk mencegah penyebaran melainkan juga untuk menekan angka kematian," jelasnya.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan fasilitas kesehatan untuk memastikan perawatan terbaik bagi pasien, yaitu mengoptimalkan pasokan obat, oksigen, kesiapan nakes, dan memastikan jumlah tempat tidur bagi pasien COVID-19 tercukupi meski masih ada potensi lonjakan kasus.

Terkait ketersediaan tempat tidur, kapasitas rumah sakit di seluruh Indonesia saat ini mencapai 430 ribu unit. Dari jumlah itu, per minggu lalu sekitar 92 ribu terisi pasien COVID 19, sedangkan minggu ini jumlah yang terisi adalah 82 ribu unit.

"Artinya, terdapat penurunan jumlah pasien bergejala sedang-berat. Kendati demikian, jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus lebih tinggi, Pemda di tiap wilayah masih berpeluang meningkatkan konversi tempat tidur pasien COVID-19 di rumah sakit," pungkasnya.

(akd/ega)