Kementerian ESDM Gelar Workshop soal Pengelolaan Limbah Jadi Energi

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 21:24 WIB
Workshop Limbah
Foto: Kementerian ESDM
Jakarta -

Kementerian ESDM menggelar APEC Workshop on Community Based Waste to Energy Management selama empat hari pada tanggal 27-30 Juli 2021. Workshop ini menghadirkan narasumber dari Jepang, Swedia, Malaysia, Korea, Inggris, serta Satuan Kerja, akademisi dan pelaku usaha pengelolaan limbah di Indonesia.

Workshop ini juga dihadiri oleh perwakilan negara-negara APEC. Total ada sebanyak lebih dari 300 peserta turut berpartisipasi pada acara ini.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menyampaikan pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah untuk pemanfaatan energi mendukung misi pemerintah dalam mengembangkan energi terbarukan di Indonesia dan akan berkontribusi pada upaya penurunan emisi gas rumah kaca di kawasan APEC.

"Para pimpinan ekonomi APEC pada tahun 2014 telah menyepakati bahwa realisasi pemanfaatan energi terbarukan di kawasan Asia Pasifik dapat meningkat hingga dua kali lipat di tahun 2030. Karena itu, perlu dilaksanakan transisi dari energi fosil ke energi rendah karbon. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan limbah untuk memenuhi kebutuhan energi," ungkap Dadan dalam keterangan tertulis, Jumat (30/7/2021).

Lebih lanjut Dadan menyampaikan Kementerian ESDM mendukung upaya pihak-pihak yang berpartisipasi dalam melaksanakan program pengelolaan sampah untuk energi. Meski saat ini Indonesia masih berjuang untuk menangani permasalahan pengelolaan sampah pada skala besar, inisiatif manajemen sampah yang dilaksanakan dalam skala kecil terbukti berkontribusi positif pada pengelolaan sampah.

Oleh sebab itu, manajemen limbah berbasis komunitas dapat menjadi alternatif dalam meminimalisir akumulasi sampah pada lokasi pembuangan yang dikelola oleh Satuan Kerja Daerah setempat.

Sementara itu pada sesi diskusi, Yukihisa Sakata dari JASE-W menekankan poin penting pengelolaan sampah memiliki tujuan utama untuk menjaga sanitasi dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat, bukan kegiatan yang dilaksanakan untuk mendapatkan profit.

"Hal ini yang membedakan fasilitas pengelolaan sampah untuk PLTSa dengan pembangkit listrik lainnya secara umum," ujarnya.

Di sisi lain, Inge Johansson dari RISE Research Institutes Swedia mengatakan untuk mensukseskan pengelolaan sampah kota dan pemanfaatannya sebagai sumber energi, maka perlu dilaksanakan edukasi sejak dini dan sosialisasi kepada masyarakat dan ke sekolah-sekolah.

Hal ini terutama untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mengurangi limbah, membuang sampah pada tempatnya, hingga memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Meski demikian, diperlukan pendekatan sosial ekonomi untuk menyusun strategi yang tepat.

"Tiap-tiap kasus membutuhkan penanganan yang berbeda, belum tentu membutuhkan solusi yang sama," imbuhnya.

Sebagai informasi, beberapa daerah di Indonesia telah mulai melaksanakan program pemanfaatan limbah untuk energi, termasuk untuk keperluan memasak dengan kompor gasifikasi. Selain itu, sudah ada perusahaan startup yang aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan di bidang manajemen sampah.

Startup tersebut antara lain Comestoarra yang melaksanakan program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) di Ende, NTT, dan Rekosistem yang mengumpulkan sampah anorganik di Jakarta dan melaksanakan program manajemen limbah end-to-end dengan smart technology.

(ncm/ega)