Curhat Pedagang Pasar Jembatan Besi Jakbar, Omzet Turun Drastis hingga 60%

Annisa Rizky Fadhila - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 17:07 WIB
Suasana Pasar Jembatan Besi, Jakarta Barat, Jumat (30/7/2021) siang.
Foto: Suasana Pasar Jembatan Besi, Jakarta Barat. (Annisa Rizky/detikcom)

Begitu pula harapan Sri (35), pedagang warung makan di Pasar Jembatan Besi. Sri mengaku pendapatannya berkurang drastis sejak PPKM diberlakukan. Sebelum PPKM, Sri bisa meraup omzet Rp 1,5-Rp 2 juta per hari

Namun, saat ini, pendapatannya turun tajam. Meski enggan menyebutkan angkanya, Sri menekankan pendapatan maupun pengunjung yang datang berkurang signifikan.

"Pendapatan berkurang banget. Biasanya omzet itu bisa dapat Rp 1,5-Rp 2 juta. Sekarang mah Rp 1 juta aja kalau bisa dapet ya alhamdulillah. Ya bisa di bilang sekarang turun drastis lah pendapatan," kata Sri kepada detikcom.

Sri (35), pedagang warteg di Pasar Jembatan Besi, Jakarta Barat.Sri (35), pedagang warteg di Pasar Jembatan Besi, Jakarta Barat. (Annisa Rizky/detikcom)

Dia pun baru mulai berjualan sejak hari Minggu kemarin. Sebelumnya, di bulan Juni, Sri tidak berjualan karena larangan pemerintah.

Karena tidak bisa berdagang, dia memilih pulang ke kampung halamannya di Tegal, Jawa Tengah. Meski sudah bisa berdagang, dia mengaku saat ini jumlah pembeli belum ramai seperti biasanya.

Adapun selama PPKM level 4, warteg Sri buka dari pukul 06.00 WIB sampai 22.00 WIB. Dia pun mengaku aturan makan 20 menit sulit diterapkan karena pembeli yang datang tidak hanya satu dua orang.

"Ya susah ya. Kita kan melayani nggak cuma satu orang. Tapi sejauh ini sih kebanyakan pada dibungkus. Kalau pun makan di sini semuanya pada mencar. Kalau mau makan di sini juga, orang-orang pada nanya, 'boleh makan di sini nggak?' Ya saya jawab, 'boleh, tapi dibatasi'. Terus akhirnya pada minta dibungkus," papar Sri.

Kepada detikcom, Sri menjelaskan biasanya ada Satpol PP yang datang mengecek ke lokasi. Namun, sambung Sri, sudah beberapa hari Satpol PP tidak berkeliling dan memeriksa pedagang.

"Sudah beberapa hari ini nggak liat Satpol PP. Kemarin, pas baru pertama kali buka, pas malam Senin apa malam Selasa, itu Satpol PP lewat pukul 21.30 WIB malam. Untungnya, alhamdulillah waktu itu saya sudah tutup," ujarnya.

Sejauh ini, masih ada pembeli yang datang ke warung makan Sri. Kendati jumlahnya berkurang dari biasanya, namun Sri masih bisa bersyukur. Dia pun berharap, ke depan pemerintah tak lagi membuat aturan yang menyulitkan pedagang.

"Ya kita rakyat biasa nggak bisa apa-apa. Yang penting kita bisa jualan aja. Harapannya ya nggak ada aturan-aturan lagi, mudah-mudahan bulan ini udah terakhir ya. Pengennya jangan dibatasi lagi gitu orang makan. Kita juga buka udah nggak bisa 24 jam kan, pendapatan juga apalagi berkurang," terang Sri.


(zak/zak)