Mahfud Minta Ulama-Tokoh Agama Tenangkan Masyarakat Hadapi Corona

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 20:56 WIB
Menkopolhukam Mahfud MD dan Gubernur Khofifah
Mahfud Md (Faiq Azmi/detikcom)
Jakarta -

Menko Polhukam Mahfud Md meminta para ulama mengampanyekan ketenangan dalam menghadapi COVID-19. Dia mengatakan segala penyakit pasti ada obatnya, termasuk virus Corona (COVID-19).

"Tolong ulama-ulama, tokoh-tokoh agama supaya juga mengampanyekan masyarakat tenang. Penyakit (COVID) ini sama dengan penyakit lain ada obatnya," kata Mahfud saat dialog virtual penanganan COVID-19 bersama Walubi, PHDI, dan Matakin, Kamis (29/7/2021).

"Penyakit apa pun ada obatnya, sehingga jangan takut kalau Corona pasti mati, oh ndak. Sama kan kalau ibu diare, beri Diatabs, kalau pusing perjalanan Antimo, kalau agak pusing di rumah parasetamol atau Decolgen, nah kalau Corona itu vaksin, masker," sambungnya.

Mahfud menyampaikan ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk mengobati COVID-19. Yang pertama, dengan doa; dan yang kedua, dengan ketenangan.

"Saya tadi baru men-tweet satu kampanye. Mengobati atau melawan Corona itu ada dua jalur, satu jalur spiritual itu doa dan ketenangan tidak panik. Kata ilmu kedokteran Ibnu Sina itu mengatakan mengobati orang itu dengan ketenangan, separuh kesembuhan itu tenang," ujarnya.

Mahfud menuturkan ada sejumlah orang di kampung yang mengklaim menemukan obat tradisional untuk menyembuhkan COVID-19. Meskipun belum dipastikan secara ilmiah kebenarannya, hal itu menjadi suatu keyakinan yang akhirnya menimbulkan ketenangan.

"Bahkan setiap orang itu kadang mempunyai kecenderungan obat sendiri karena ketenangan. Misalnya itu di kampung-kampung ada orang membuat obat. 'Pak, ada kiai menemukan obat vaksin mujarab, air kelapa dicampur daun apa daun apa,' itu kan tenang meskipun memang orang nggak sakit yang diobati, tapi sembuh semua," ucapnya.

Lebih lanjut Mahfud mengatakan kesembuhan warga desa itu akhirnya didapat dari ketenangan. Ketenangan, kata Mahfud, menghindarkan diri dari penyakit.

"Ketenangan itu membuat di situ bersih, baru kalau ada yang sakit beneran lalu kita beritahu, ya, ya dikembangkan aja itu agar orang minum air kelapa campur air apa, campur air apa, yang didoakan oleh kiai, karena itu ketenangan bukan karena kimia obatnya. Ketenangan yang menyembuhkan dan menghindarkan penyakit itu," imbuhnya.

Curhat ke Mahfud

Seorang rohaniwan Konghucu, Chandra Setiawan, mengeluhkan sulitnya mendapat obat terapi COVID-19 kepada Mahfud Md. Menurut Chandra, kelangkaan terjadi akibat penetapan harga eceran tertinggi (HET) obat terapi COVID-19 yang ditetapkan pemerintah terlalu rendah.

"Ini penting saya sampaikan karena ada keluhan bahwa HET yang ditetapkan menteri kesehatan itu terlalu rendah," kata Chandra.

Chandra mengatakan hampir semua obat terapi COVID-19 di Indonesia impor dari luar negeri. Hal itulah yang membuat apotek tidak memiliki stok karena harga obat yang diimpor di atas HET.

"Kita tahu seperti Remdesivir itu kan impor 100 persen, Favipiravir itu juga impor 40 persen lebih, kemudian ada juga obat radang Oseltamivir juga ini 60 persen impor, kemudian juga Intravenous Immunoglobulin juga 100 persen impor. Jadi kalau mereka rugi apotek, itu bagaimana mau mengambil kalau untuk mereka jual (lagi) rugi," ujarnya.

Menurut Chandra, HET yang ditentukan pemerintah tidak realistis. Obat-obat tersebut, kata Chandra, tidak ada di apotek tapi ada di pasar gelap dan harganya mahal.

"Artinya kan sangat tidak mungkin, ini nggak realistis ketika pemerintah memaksakan penetapan HET tapi barang nggak ada. Artinya kalau kita mau dapat, di pasar gelaplah yang akhirnya kita dapat, karena di apotek carinya setengah mati nggak ada, mahal," tuturnya.

Meski kerap beredar di pasar gelap dengan harga tinggi, Chandra mengatakan orang yang memiliki banyak uang pun belum tentu bisa mendapatkannya. Untuk itu, dia meminta pemerintah mau membantu mengimpor obat-obat tersebut.

"Ini semua dibutuhkan, tapi barang nggak ada, dan import sebagian besar, tidak bisa diproduksi dalam negeri. Jadi kalau kita bicara tindakan dan meninjau HET mungkin nggak ada yang mau ngimpor, kecuali pemerintah yang mau ngimpor semua, nah itu jadi pertimbangan agar kita yang menderita itu bisa membeli. Ini ada uang aja nggak bisa beli," kata Chandra.

Sementara itu, Mahfud menyampaikan kelangkaan obat terapi COVID-19 saat ini menjadi persoalan yang sedang ditangani pemerintah. Satu-satu persoalan penanganan COVID-19 sedang diselesaikan.

"Ini juga problem kita. Jadi kita tahu hal-hal yang seperti ini. Ini deputi saya yang tidak hadir (dialog virtual) karena ibunya di Samarinda sakit dan sedang menunggu obat ini. Dicari, pesan, pesan, gitu. Karena ini yang bisa dipakai untuk kondisi yang beliau hadapi sekarang. Belum obat-obat lain lagi. Ivermectin mahal, ini mahal, dan sebagainya," kata Mahfud.

"Itu juga menjadi perhatian pemerintah. Itu ditangani satu persatu dan masukan ini akan memperkuat upaya-upaya pemerintah," sambungnya.



Simak Video "Mahfud Md: Pemerintah Akan Tindak Aksi Demo yang Tak Sesuai Prokes"
[Gambas:Video 20detik]
(isa/idn)