Nelayan Selamatkan Warga Desa NTT Saat Siklon Seroja Diberi Anugerah BMKG

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 11:07 WIB
Atap SPBU roboh akibat badai Siklon tropis Seroja di Kota Kupang, NTT, Kamis (8/4/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang mencatat sebanyak 1.264 rumah mengalami rusak berat, satu orang meninggal dunia dan tujuh orang luka berat dampak dari angin kencang pada Minggu (4/4). ANTARA FOTO/Kornellis Kaha/hp.
Dampak kerusakan di dermaga setelah terjadi siklon tropis Seroja pada awal April lalu (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi apresiasi berupa Anugerah BMKG kepada seorang nelayan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Nelayan itu dinilai telah membantu menyelamatkan warga desa saat terjadi siklon tropis Seroja.

Nelayan tersebut bernama Muhammad Mansur Dongkeng, yang akrab disapa Dewa. Anugerah BMKG 2021 Kategori Tokoh Inspiratif diberikan kepadanya berkat aksi nyata Dewa dalam menyelamatkan jiwa sekitar 120 keluarga warga Desa Oesapa, NTT.

"Berbekal informasi dari BMKG, beliau memimpin evakuasi warga desa dari ancaman siklon tropis Seroja. Keteladanan Pak Dewa dalam hal sadar bencana terbukti bermanfaat," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya, Kamis (29/7/2021).

Dia mengatakan kemampuan Dewa membaca data didapat dari Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) BMKG. Dia berharap kisah Dewa dan Anugerah BMKG ini menjadi inspirasi dan motivasi masyarakat lain agar sadar bencana untuk menuju Indonesia tangguh dan tumbuh.

Saat terjadi siklon tropis Seroja, Dewa mampu membaca grafis dan data mengenai perkembangan cuaca di Kupang yang secara drastis menjadi cuaca ekstrem hingga membentuk siklon Seroja.

Pengalaman Dewa mengikuti SLCN membuat setiap imbauan yang diberikannya didengarkan dan diikuti warga.

Badai yang dikenal siklon tropis Seroja terjadi pada awal April 2021. Badai itu mengamuk, menerjang apa pun yang dilalui, membawa angin dan banjir.

Sebanyak 11 wilayah kabupaten dan kota di NTT terdampak banjir bandang dan longsor akibat cuaca ekstrem imbas dari bibit siklon dan siklon tropis Seroja.

Seorang nelayan di NTT diberi Anugerah BMKG karena dinilai telah membantu menyelamatkan warga desa saat terjadi Siklon Tropis Seroja. Nelayan tersebut bernama Muhammad Mansur Dongkeng yang akrab disapa Dewa (dok BMKG)Seorang nelayan di NTT diberi Anugerah BMKG karena dinilai telah membantu menyelamatkan warga desa saat terjadi Siklon Tropis Seroja. Nelayan tersebut bernama Muhammad Mansur Dongkeng, yang akrab disapa Dewa. (Foto: dok. BMKG)

Ada delapan daerah di NTT dengan kondisi kerusakan terparah, termasuk Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Alor, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Sabu Raijua.

Atas pemahaman Dewa dalam menginterpretasikan pesan prakiraan cuaca dari BMKG, Dewa meminta warga desa segera mengungsi dan menyelamatkan diri, karena badai besar akan datang.

Atas arahan dan informasi Dewa berdasarkan info dan data BMKG, warga desanya segera berlindung dan 120 keluarga selamat melalui badai tersebut, meski dalam peristiwa tersebut empat orang dinyatakan meninggal karena masih berada di tengah laut dan tidak mendapatkan pesan dari Dewa.

Anugerah BMKG 2021 akan memberikan apresiasi berupa piala dan sertifikat yang ditandatangani Kepala BMKG, serta hadiah ponsel dan dana apresiasi.

Cerita Dewa Hindari Siklon Seroja

Ada 120 keluarga di Kampung Nelayan Oesapa yang bisa menghindari bahaya badai Seroja. Namun ada nelayan lain yang menjadi korban karena berada di tengah laut sehingga tak menerima pesan.

"Saya tidak sempat selamatkan semua rekan, di antaranya harus meninggal di tengah laut karena tidak mendapatkan informasinya lebih dini," kata Dewa.

Dewa, yang juga menjabat Ketua Komunitas Angsa Laut, menyampaikan peringatan dini melalui pesan seluler kepada seluruh warga. Dia mengingatkan warga bahwa cuaca buruk akan segera datang di wilayah pesisir pantai tersebut.

Awalnya, pada Rabu (31/3) sekitar pukul 08.00 Wita, Dewa mendapat pesan peringatan dini cuaca saat membersihkan jala dan kapalnya.

Esok paginya, ia mengamati update informasi cuaca di grup WhatsApp alumni Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Grup itu selalu diamatinya sebelum melaut untuk memastikan tanda dan peringatan cuaca.

Perhatiannya agak tersita pada warna dari grafik yang ia pahami menunjukkan kekuatan angin yang berlipat kekuatan. Dewa lalu memperingatkan rekannya bahwa ada informasi cuaca buruk.

Rekan Dewa selalu percaya atas info cuaca yang diberikan. Dewa merasakan angin terjadi peningkatan kekuatan.

Malamnya, Dewa sempat melaut untuk mencari ikan. Namun saat itu percikan air laut dan gelombang tak seperti hari biasanya.

Dewa sempat ketakutan saat melaut. Untuk pertama kali, ia ragu berada di atas kapalnya sendiri, meski situasinya sudah terlambat untuk kembali menginjak bumi.

Sembilan kapal telah berangkat dari pesisir pantai untuk mencari ikan. Di tengah laut, Dewa kerap memimpin rekannya, dan tetap harus tenang meski perasaan kalut ia rasakan. Jala pun siap ditebar.

Namun, tak seperti biasanya, jala sulit terlempar lurus dan kencang. "Biasanya itu, jala sudah lurus dan terpasang kencang, tapi malam itu tidak, bahkan harus dicoba beberapa kali," katanya.

Dewa merasakan hentakan kuat dari jalanya. Namun dia merasa bukan tarikan ikan. Sebab, getarannya bisa dirasakan siapa pun yang berada di badan kapal pada saat itu.

Jala tersangkut, dengan cepat Dewa dan rekan melepaskan ikatan yang ada dan menarik jala yang ada di dalam air. Semua nelayan kaget mendapati jala yang ditarik karena tak satu pun ikan terjerat.

Namun jala tersebut saling menggulung hingga membentuk bola besar. Arus kuat di bawah laut menyebabkan jala saling tersangkut.

Nelayan memutuskan segera kembali ke darat. Pukul 01.00 Wita, sembilan kapal berhasil bersandar ke pesisir. Angin semakin kencang dan laut sangat bergelombang.

Pada Jumat (2/4) sekitar pukul 06.00 Wita, pesan dari BMKG datang lebih awal. Cuaca dikabarkan memburuk dan selang dua jam kemudian selalu ada pesan baru dari info BMKG.

Ia pun mulai mengabari rekannya untuk sebisa mungkin menepi, mengingat gelombang laut makin tinggi. Usai salat Jumat, kembali masuk info dari BMKG, grafik warna menunjukkan ada tanda badai kuat.

Angin dan hujan turun semakin kuat. Dewa segera menuju ke desa dan memperingatkan seluruh warga dan perangkat desa. Di saat bersamaan hempasan angin tiba-tiba menguat bahkan sempat menghempas Dewa ke pasir pantai.

Ia mendengar jeritan dari istrinya, segera ia mengajak istri dan keluarganya keluar dari rumah menuju tempat yang lebih aman. Ia peringatkan teman nelayan lain, untuk segera meninggalkan rumah dan kapal-kapalnya.

Meski hanya sembilan kapal sempat diselamatkan oleh warga desa, sisanya ditinggalkan begitu saja. Dewa segera menuju ke perangkat desa dan menentukan tempat yang aman untuk berlindung. Madrasah desa mereka pilih karena memiliki tembok ganda kokoh yang dipercaya lebih aman dalam menghadapi siklon tropis Seroja.

Dewa memimpin evakuasi desanya menuju madrasah, sembari ia membagikan peringatan info BMKG kepada rekan-rekan lainnya melalui telepon genggam. Diikuti info tambahan dari Dewa, ia memperingatkan rekan lainnya untuk segera menuju ke lokasi pengungsian, yaitu madrasah desa untuk berlindung dari badai besar.

(jbr/idh)