Operasi Sejak 2020, Pasutri Pemalsu Kartu Vaksin Raup Untung Rp 250 Juta

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 10:31 WIB
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Tangkap pemalsu kartu vaksin di Bogor (Dok.istimewa)
Polres Pelabuhan Tanjung Priok menangkap pemalsu kartu vaksin di Bogor. (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Polres Pelabuhan Tanjung Priok menangkap pasangan suami-istri pembuat sertifikat vaksin COVID-19 palsu. Polisi menyebut pelaku telah meraup keuntungan hingga Rp 250 juta sejak mulai operasi pada 2020.

"Pelaku sudah memulai perbuatan pidana tersebut sejak April 2020 dan meraup hasil dari kejahatannya hingga saat ini diperkirakan Rp 255.000.000," kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Putu Kholis Aryana dalam keterangannya, Kamis (29/7/2021).

Kedua pelaku merupakan pasangan suami-istri berinisial AEP dan TS. Keduanya ditangkap pada Rabu (21/7) di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Kholis mengatakan pelaku mulai aktif membuat permintaan sertifikat vaksin COVID-19 sejak 2 minggu lalu. Menurutnya, pelaku mendapat pesanan melalui perantara berinisial KR, yang kini masuk dalam DPO.

"Di mana yang bersangkutan telah membuat sertifikat tersebut sudah 10 kartu sertifikat vaksin COVID-19 palsu dengan memanipulasi ID number dan barcode pada sertifikat tersebut yang dicetak pada PVC (kartu) polos," ucapnya.

Palsukan Dokumen Sejak 2020

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok AKP David Kanitero menjelaskan pelaku sudah melakukan pemalsuan dokumen seperti KTP, NPWP, kartu kerja, dan lain-lain sejak 2020.

"Untuk sertifikat vaksin dalam 1 bulan terakhir. Pemalsuan dokumennya sejak 2020," kata David.

Dia menyebut pelaku AEP bisa memalsukan sejumlah dokumen karena memang memiliki kemampuan mendesain. Sebab, kata dia, AEP merupakan lulusan sarjana komputer.

"Pelaku merupakan lulusan sarjana komputer sehingga mahir dalam melakukan editing menggunakan program Corel Draw dan Photoshop. Selain memalsukan sertifikat vaksin COVID-19, yang bersangkutan juga memalsukan KTP, NPWP, kartu kerja, dan dokumen lainnya," ujarnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dikenai Pasal 35 juncto Pasal 51 Ayat (1) dan/atau Pasal 32 juncto Pasal 48 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 263 KUHPidana dengan ancaman maksimal kurungan penjara 12 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

Lihat juga Video: Polisi Bongkar Sindikat Pemalsu Hasil Swab Corona hingga Ijazah

[Gambas:Video 20detik]



(fas/mea)