Penjelasan PHRI soal Keluhan Nikita Mirzani Karantina di Hotel Supermahal

Tim Detikcom - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 15:13 WIB
Nikita Mirzani
Nikita Mirzani (Rafida Fauzia/detikcom)
Jakarta -

Artis Nikita Mirzani mengaku kecewa saat menjalani karantina di hotel bintang 5 sepulang dari Turki. Dia mengeluh dengan biaya yang mahal tetapi menilai fasilitasnya kurang dan layaknya di penjara karena tidak bisa ke mana-mana. Koordinator Hotel Repatriasi dari PHRI, Vivi Herlambang, menjelaskan pihaknya telah mengikuti aturan dari Satgas COVID-19.

"Pokoknya semua aturan di hotel itu kami ada aturannya dan ada ketentuannya dari satgas, jadi kami mengikuti aturan yang ada," kata Vivi saat dihubungi, Rabu (28/7/2021).

Nikita Mirzani mengaku awalnya ditawari harga Rp 17,8 juta untuk menjalani isolasi mandiri selama 8 hari, tetapi ketika sampai hotel harganya berubah menjadi Rp 22 juta. Vivi menjelaskan harga Rp 22 juta itu untuk 2 orang 1 kamar.

"Harga itu kita beritahukan harga single dan double, harga yang disampaikan itu harga Rp 17 juta itu harga single dan harga double itu Rp 22 juta untuk 2 orang, kita jualannya memang 1 sekamar sendiri tetapi boleh berdua untuk biaya tambahan makanannya, kan makanannya tetap harus bayar dua kan," katanya.

"Jadi saya sampaikan harga itu adalah harga single dan harga double, kalau hotel bintang 5 karena pada dia turun, dia belum booking dia adanya di situ hotel itu. Jadi dia pesan hotel itu tetapi ada hotel lain kok nggak penuh semua memang," ujarnya.

Sementara itu, Nikita Mirzani juga mengeluhkan kondisi makanan yang sudah dingin saat akan dikonsumsi. Vivi mengatakan pihak hotel akan mengantarkan makanan sesuai jam yang dijanjikan kepada konsumen.

"Makanan memang harus aturan dari hotel, tidak boleh aturan dari G**food jadi semua harus dari hotel. Breakfast, lunch, dinner kami antar, misalnya minta diantar jam 12, kami akan antar jam 12 sesuai permintaan. Kalau dia makannya jam 1 ya salah siapa," ujarnya.

Selain itu, Nikita mengeluhkan soal handuk yang tidak diganti-ganti. Vivi mengatakan pengelola hotel telah menyiapkan handuk dan peralatan untuk membersihkan kamar tamu untuk setiap hari yang disediakan di depan kamar. Sedangkan menurut VIvi, petugas tidak mungkin membersihkan kamar masing-masing.

"Semuanya kalau yang repatriasi handuk kita siapkan untuk 7 hari, handuknya ganti-ganti setiap hari ganti silakan ganti-ganti di depan kamar. Terus kalau kamar memang tidak boleh dibersihkan oleh kami, tapi kita siapkan perawatan, kita siapkan barangnya semua," ungkap Vivi.

Kemudian warga yang sedang melakukan karantina, kata Vivi, sesuai edaran Satgas tidak boleh ke luar ruangan.

"Memang tidak boleh ke mana-mana, dia harus tetap di kamar, dia siapkan channel TV yang banyak, kita siapkan internet yang kencang supaya dia bisa bekerja. Kita ingin Indonesia yang lebih baik kan tujuannya supaya tidak menyebar," ungkapnya.

Sebelumnya, Nikita Mirzani menceritakan bagaimana dirinya kecewa terhadap hotel bintang 5 yang dia pakai untuk karantina sepulang dari Turki. Kamar yang ia sewa itu jauh dari kata 'manusiawi', tapi harga sangat mahal.

Sejak awal kedatangannya di Indonesia, Nikita Mirzani merasa ada yang janggal. Ia merasa aneh dengan tata cara melakukan karantina untuk orang-orang yang baru saja pulang dari luar negeri.

"Dari Bandara ada 3 pintu yang harus kita lewatin, bukan cap imigrasi doang. Paspor disita. Jadi pintu pertama, kedua legalisir surat yang dikasih vaksin dan tetek bengek. Pintu ketiga itu baru mau keluar, kita mau ambil koper disamperin satgas COVID menanyakan sudah pesan hotel buat karantina di mana. Kalau belum ditawarin sama mereka," ungkap Nikita Mirzani saat ditemui di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Selasa (27/7/2021).

Nikita Mirzani pun akhirnya memilih melakukan karantina di hotel yang paling murah. Namun sayang, kamarnya sudah penuh semua.

"Gua berenam, satu perempuan. Jadi karantina satu kamar satu orang. Bayangin gue berenam ada enam kamar, gua mentingin hotel murah buat karantina," kata Nikita Mirzani.

"Ya hotel murah yang penting kita aman, bisa ngobrol, dan satu lantai. Akhirnya pesan hotel murah ternyata full," sambungnya.

Nikita Mirzani akhirnya ditawari hotel bintang 5 oleh petugas. Tak ingin ribet, Nikita Mirzani pun manut atas apa yang disarankan.

"Gue capek mau istirahat, gue iyain aja, dikasih list hotel bintang 5 semua. Padahal gue tidur di hotel murah aja nggak apa-apa kan, karantina nggak bisa ke mana-mana dan hotel sepi. Udah kayak kota mati," tutur Nikita Mirzani.

"Dikasih list hotel mahal gue iyain aja, gue tanya harganya, Rp 17,8 juta. Ya sudah pesanlah hotel itu," ucapnya.

Namun, setelah tiba di lokasi, harga per kamar hotel tiba-tiba saja berubah. Harganya jadi lebih mahal dari yang semula ditawarkan.

"Gue minta bisa nggak satu kamar dua orang karena kita satu tim. Jadi Rp 17,8 (juta) dikali tiga selama delapan hari. Pas sampai hotel harganya berubah jadi Rp 22 juta. Itu saksinya yang dengar banyak," papar Nikita Mirzani.

Saat mendengar hal itu, Nikita Mirzani tidak terima. Ia pun komplain kepada petugas setempat.

"Gue bukan berantem ya, gue tanyain, 'Kok di bandara Rp 17 juta, kok di hotel Rp 22 juta?' Karena gue capek ya gue bayar. Di situ udah nunggu tim satgas buat PCR. Ya sudah habis bayar ya kita tes. Besoknya hasilnya negatif," beber Nikita Mirzani.

"Maksud gue kalau negatif jangan diperlakukan seperti orang positif," pungkas ibu tiga anak itu.

Simak juga video 'Fasilitas Isoman di Hotel Bikin Nikita Mirzani Kecewa, Ini Respons Sandiaga Uno':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/tor)