Kenalkan Fenomena 'Angin Geurutee', USK-BMKG Jelaskan Dampaknya ke Warga

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 14:22 WIB
Konferensi pers USK dan BMKG di Aceh (dok. Istimewa)
Konferensi pers USK dan BMKG di Aceh (Foto: dok. Istimewa)
Banda Aceh -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh dan Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh memperkenalkan fenomena 'angin Geurutee'. Fenomena baru itu disebut dapat merusak tanaman hingga memicu kekeringan.

Peneliti USK Yopi Ilhamsyah mengatakan fenomena 'angin Geurutee' pertama sekali diamati forecaster atau pengamat cuaca Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda. Fenomena itu disebut terjadi pada Juli-Agustus.

Fenomena angin itu disebut terjadi di wilayah Pegunungan Geurutee di perbatasan Aceh Besar dan Aceh Jaya. Dia menyebut fenomena tersebut mirip dengan angin Bahorok di Sumatera Utara, angin Barudu di Sulawesi, angin Gending di Probolinggo, angin Kumbang di Cirebon, angin Brubu di Makassar, dan angin Wabraw di Biak.

"Penamaan 'Angin Geurutee' didasarkan pada nama lokasi tempat fenomena tersebut terjadi," kata Yopi dalam keterangan tertulis, Rabu (28/7/2021).

Berdasarkan data 20 tahun terakhir, katanya, fenomena itu berdampak signifikan terhadap kekeringan dan kerusakan tanaman di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh. Selain itu, fenomena itu bisa menyebabkan banjir di wilayah Aceh Jaya.

"Karena itu, BMKG berkoordinasi dengan para ilmuwan di FMIPA USK untuk melakukan pengamatan lebih detail terhadap fenomena ini," jelasnya.

Kegiatan deklarasi angin itu digelar di USK di Banda Aceh pagi tadi. Acara itu dihadiri Rektor USK Prof Samsul Rizal, Deputi Bidang Meteorologi BMKG pusat Guswanto, Dekan FMIPA USK Teuku M Iqbalsyah, Kepala Koordinator BMKG Aceh Nasrol Aidil, dan para peneliti.

Sebelum deklarasi dilakukan, kata Yopi, telah dilakukan rapat koordinasi dan audiensi BMKG dengan FMIPA USK serta disusul dengan focus group discussion (FGD) secara virtual. Setelah melewati pengamatan dan analisis data yang tersedia, kedua institusi disebut sepakat untuk mendeklarasikan fenomena tersebut.

"Sehingga publik dapat memahami dengan baik tentang fenomena ini serta dampaknya, khususnya masyarakat yang berdomisili di lokasi terdampak, yakni Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Jaya," ujarnya.

Prakirawan BMKG Budi Hutasoit mengatakan hasil pengamatan pada beberapa kasus di Aceh Besar dan Pidie, embusan angin kencang itu dapat merobohkan pepohonan serta merusak tanaman padi. Dampak lain, jelasnya, timbul dehidrasi, hama tanaman, serta penyakit seperti batuk, diare, muntaber, dan kulit kusam pada warga.

"Kasus penyakit epidemik seperti malaria dan demam berdarah meningkat seiring memanasnya suhu di permukaan. Oleh karena itu, masa tanam padi, jagung, dan sebagainya harus disesuaikan dengan fenomena alam ini, sehingga menghasilkan hasil panen yang lebih baik," ujar Budi.

(agse/haf)