Wonocolo, Ladang Minyak Berupah Rp 6.000
Senin, 27 Mar 2006 10:30 WIB
Bojonegoro - Suasana Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan -- pusat penambangan minyak tradisional di Kabupaten Bojonegro -- yang suram, sangat bertolak belakang dengan apa yang saat ini diimpi-impikan warga sekitar sumur minyak Banyuurip di Kecamatan Ngasem, di kabupaten yang sama. Setelah resmi pemerintah menunjuk ExxonMobil sebagai lead operator, warga Buanyuurip sangat berharap proyek eksploitasi minyak segera berjalan dan mereka bisa menikmati hasilnya dengan bekerja di tempat tersebut sehingga kesejahteraannya ikut terangkat."Kalau di sini berbeda...minyak sudah ada tapi kondisi ekonomi masih sulit," tegas Sundoko (19), pekerja angkut minyak di tambang sumur 56, Desa Wonocolo. Pemuda lulusan SMA tahun 2005 ini terpaksa menjadi tenaga kasar di tambang milik Suyoto sejak tiga bulan lalu. "Mau kerja apa lagi. Ya terpaksa ikut menambang di sini," jawab Sundoko yang mendapat upah Rp 7.500 untuk setiap drumnya.Apa yang dirasakan Sundoko juga dialami oleh Kawi (47). Bapak dari lima orang cucu ini sejak 15 tahun lalu bergelut dengan minyak mentah meski sebatas buruh pikul yang setiap harinya mengangkat minyak dari tambang ke lokasi penampungan sejauh 100 meter dengan jalan berliku dan berbukit ini. Karena keterbatasan kemampuan dan tidak adanya lapangan pekerjaan lainnya, dia hanya bisa nrimo dengan keadaan. Anggapan jika kehidupan di sekitar sumur minyak akan mampu menyejahterakan warganya ditepisnya. "Tidak juga, lihat saja penduduk di sini, semua kerjanya ya...seperti ini," kata Kawi yang mendapat upah per drumnya Rp 6.000 ini.Selain menggunakan mesin diesel untuk menarik minyak dari kedalaman 200-300 meter di bawah permukaan bumi, di dua desa tersebut masih ada yang menggunakan tenaga manusia. Mereka dengan otot yang mengencang secara beregu (5 orang) menarik tali tambang sejauh 200-300 meter menuruni jalan yang berliku.Alasan penggunaan tenaga manusia ini cukup sederhana, yaitu untuk menekan ongkos produksi setelah harga solar meroket tahun lalu. "Jika harus pakai solar, kita rugi. Karena setiap harinya kandungan minyak yang kita dapat tidak mesti jumlahnya," ungkap Gianto (40), penambang sumur minyak di Dusun Dangilo, Desa Hargomulyo.Tak jarang karena beban yang tarikan cukup berat, teman sekerjanya jatuh sakit karena terkilir tangan atau punggungnya. "Namanya kerja pasti ada risikonya," tutur Gianti dengan mengisap rokok kreteknya dalam-dalam saat ditemui ketika istirahat siang.Pengamatan detikcom di lokasi, proses penambangan minyak ini tidaklah seruwet yang dibayangkan. Dengan modal sumur produksi peninggalan zaman Belanda ini, dengan berkelompok warga berbagi tugas. Satu orang sebagai operator mesin diesel, 1 orang berjaga di lokasi titik sumur untuk menumpahkan minyak yang bercampur air setelah diangkat ke atas, dan sejumlah tenaga kerja yang lain bertugas menciduki minyak yang telah terpisah dengan air di bagian penampungan.Setelah terkumpul, minyak mentah yang berwarna coklat kehijau-hijauan ini disetor ke Terminal Penampungan yang telah menyediakan drum-drum kosong. Selanjutnya dari drum-drum yang sudah terisi disalurkan ke mobil tangki. Dari situlah mereka menjualnya ke Unit Ops dan Produksi Pertambangan KUD Bogosasono yang telah mengikat kontrak dengan PT Pertamina dengan jangkawaktu lima tahun sekali.Perlu diketahui, di atas lokasi penambangan tradisional ini terdapat sumur-sumur minyak produksi yang dikelola Pertamina Daerah Operasi Hulu JawaBagian Timur Distrik I Kawengan. Bedanya sumur ini telah menggunakan mesin-mesin. Tapi yang menarik, lokasi vital yang berada di sekitar lingkunganpemukiman tak terlihat penjagaan yang berarti, kecuali hanya pos penjagaan di bagian pintu masuk. Warga maupun pendatang pun secara bebas lalu-lalang di sekitar sumur minyak. Bahkan terlihat sejumlah ekor sapi milik penduduk asyik merumput tepat di lokasi sumur. Foto:Ramai-ramai menarik tali tambang sejauh 200-300 meter menuruni jalan yang berliku. Aktivitas ini sangat berat sehingga banyak yang jatuh sakit.
(nrl/)











































