Pasien COVID-19 RSUD Poso Berhamburan Saat Gempa M 6,3 Tojo Una-Una

Tim detikcom - detikNews
Senin, 26 Jul 2021 23:35 WIB
Ilustrasi gempa bumi (iStock)
Foto Ilustrasi Gempa Bumi (iStock)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan gempa bermagnitudo 6,3 di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang terasa hingga Poso membuat pasien COVID-19 berlari menjauhi gedung rumah sakit (RS). Hal itu terjadi di RSUD Poso.

"Di wilayah Kabupaten Poso, warga juga merasakan guncangan kuat. Dampak guncangan memicu pasien COVID-19 yang berada di lantai 3 RSUD Poso berhamburan turun ke luar bangunan. BPBD setempat pun segera mendirikan tenda untuk para pasien COVID-19," kata Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Senin (26/7/2021).

Selain itu, Abdul menuturkan petugas BPBD Kabupaten Tojo Una-Una terjun ke lapangan untuk menenangkan warga yang panik. Selain itu, BPBD setempat meminta warga menginformasikan kepada warga untuk melapor bilamana gempa menyebabkan rumah mereka rusak.

"Laporan lain juga disampaikan BPBD setempat mengenai situasi di beberapa kabupaten lain di Provinsi Sulawesi Tengah, seperti Kabupaten Morowali Utara, Pohuwato, Banggai, dan Poso. BPBD Kabupaten Morowali Utara memantau kondisi lapangan setelah warganya merasakan guncangan kuat. Sedangkan di Kabupaten Banggai, kondisi telah normal kembali dan tidak ada laporan kerusakan," papar Abdul.

Abdul menerangkan BPBD Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara (Sulut), turut melaporkan warga di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Bintauna, Kaidipang, Pinogaluman, Bol Itang Baat, dan Bol Itang Timur, merasakan guncangan kuat.

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta warga menuju dataran tinggi bila kembali merasakan gempa. Dia meminta warga tidak perlu menunggu gempa terasa dengan durasi yang lama.

"Mohon diingatkan, kepada masyarakat setempat apabila merasakan goyangan gempa, entah gempa susulan atau gempa apapun mohon yang ada di pantai itu segera menjauh," ujar Dwikorita dalam konferensi pers terkait gempa di Tojo Una-Una yang ditayangkan melalui kanal YouTube info BMKG, malam ini.

"Jadi terus digencarkan kearifan lokal apabila dirasakan goyangan sampai, teorinya itu 20 hitungan (detik), tapi teorinya itu sudah terbukti tidak perlu menunggu 20 hitungan. Katakan goyangan lima atau sampai 10 segera jauhi pantai, atau itu kan pantainya ada yang tebing tinggi atau menuju ke tempat yang lebih tinggi," tambah dia.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.