Memasak Gratis Ala Warga Bojonegoro
Senin, 27 Mar 2006 07:18 WIB
Bojonegoro - Diantara penduduk yang tinggal di sekitar sumur minyak mentah tradisional yang tersebar di Desa Wonocolo Kec Kedewan Bojonegoro terdapat sejumlah keluarga yang memanfaatkan gas bumi sebagai pengganti minyak tanah untuk keperluan sehari-harinya. Selain gasnya tersedia, alasan utamanya menghemat biaya hidup yang kian berat.Salah satu keluarga yang memanfaatkan gas bumi ini adalah keluarga Siti Rahayu. Ibu dua anak yang tinggal di Desa Dusun Besah Desa Wonocolo ini mengaku tidak lagi menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak sejak lima tahun belakang ini.Alasannya selain kandungan gas tersedia secara gratis, dirinya juga tidak akan direpotkan dengan masalah kompor sumbu. Sebab jika menggunakan kompor, dalam kurun waktu tertentu wajib mengganti atau membersihkan sumbu apinya.Namun alasan yang vital adalah mahal dan sulitnya untuk mendapatkan minyak tanah di kampung tempat tinggalnya yang memang kondisi geografisnya pegunungandan dikepung dengan hutan jati ini. "Kalau pakai gas bumi ini gratis, lumayan bisa menghemat biaya hidup yang kian berat ini," tutur Ibu Siti Rahayu yang ditemui detikcom di rumahnya. Di dapur milik Ibu Siti ini terlihat hanya dua buah tungku untuk memasak. "Saya tidak pakai kompor," katanya. Tergantung tungku mana yang akan dipakai cukup memindah pipa aliran gasnya.Kok bisa gratis? Usut punya usut, ternyata tepat disamping rumahnya terdapat sumur gas bumi yang kandungannya tidak terlalu besar. Karena jaraknya hanya sekitar 10 meter, jadi cukup dialirkan ke dapur melalui selang dan pipa.Keberadaan sumur minyak bumi yang mengeluarkan gas ini, oleh warga setempat sengaja ditutup dengan bebatuan. Namun tak lama kemudian, keluarga Ibu Siti berinisiatif memanfaakan kandungan gas untuk keperluan dapur dan penerangan di malam hari."Kalau malam, pipa yang terhubung dengan sumur gas ini dinyalakan untuk penerangan di sekitar rumah. Ngirit listrik kan," timpal Ibu Siti dengan nada polos.Apa tidak membahayakan? Ternyata tidak sama sekali. Dengan pengetahuan yang cukup terbatas, keluarga ini memberikan semacam kran penutup-pembuka pada pipa yang dialiri gas. Jika ingin menyalakan api, kran cukup di buka, begitu pula sebaliknya. Jadi tak jauh beda dengan aliran air bersih di perumahan penduduk perkotaan.
(ddn/)











































