ICAF: Australia Sering Bahayakan Indonesia
Minggu, 26 Mar 2006 06:15 WIB
Jakarta - Hubungan antara Indonesia dan Australia tampaknya sering diuji dalam berbagai kasus. Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) mencatat setidaknya sejak 1999 hubungan kedua negara ini sudah mengalami masalah.Dalam siaran persnya yang diterima detikcom, Minggu (26/3/2006), ICAF mencatat pada 1999, Australia mengeluarkan kebijakan terhadap Timor Timur (Tim Tim). Melalui Menteri Luar Negeri Alexander Downer dalam siaran persnya menyatakan Australia mendukung penentuan nasib terhadap rakyat Tim Tim. "Anehnya meski sudah menjelaskan hal tersebut, masih ada basa basi dari diri Downer. Dimana Downer mengaku bahwa Australia tetap mengakui kedaulatan Indonesia di Tim Tim," kata Koordinator ICAF Mustofa B Nahrawardaya.Menurutnya, pernyataan Downer itu terasa aneh. "Itu sama saja mengkhianati 'perjuangan' Australia bersama Inggris dan Amerika dalam membantu RI menegakkan kedaulatannya di Tim Tim. Yang jelas akhirnya Tim Tim merdeka," ujarnya.ICAF juga mencatat, pada 2001 pemerintah Australia dengan sengaja menolak sekitar 430 warga imigran Afganistan yang baru saja diselamatkan kapal Norwegia. "Setelah menolak, mereka berkali-kali membujuk dan menganjurkan kepada Indonesia agar menyediakan lokasi penampungan kepada para imigran itu," tandas Mustofa.Sedangkan pada 2003, ICAF mencatat Australia kembali menolak suaka 14 manusia perahu warga Kurdi, Turki. "Sebagai negara penendatanganan Konvensi PBB tentang pengungsi seharusnya Australia menerima ke 14 orang tersebut. Anehnya Australia justru mengirim mereka ke Jakarta melalui Maluku," jelasnya.ICAF menegaskan, belajar dari beberapa fenomena tersebut, Australia dapat dicurigai dengan adanya kasus permintaan suaka warga Papua. Karena jika dilihat dari beberapa kasus sebelumnya, Australia dinilai kurang konsisten."Ketidakkonsistenannya kembali muncul ketika menerima visa 42 warga Papua. Melalui Alexander Downer, Australia kembali menyatakan mendukung kedaulatan Indonesia atas Papua. Bukankah kata-kata itu yang diungkapkan sebelum Tim Tim merdeka," tegas Mustofa.
(ary/)











































